Menelisik Kisah Jalur Rempah di Ternate dan Tidore

National Geographic Indonesia

07 December 2018

Ternate dan Tidore adalah dua pulau kecil yang berdampingan di Laut Maluku. Sejarah dan tradisi budaya lokalnya akan memikat Anda yang tertarik dengan kisah-kisah lampau yang tercatat dalam sejarah.

Kedua pulau ini sangat erat kaitannya dengan jalur rempah, dimana bangsa Eropa ingin menguasai wilayah-wilayah di indonesia yang menghasilkan rempah-rempah. Sebagai suatu kekayaan alam yang sangat menguntungkan, persaingan pun menjadi sengit.

 

 

Bangsa Portugis di abad ke-15 menemukan rute ke Maluku. Ternate dan Tidore, menjadi salah satu yang menarik perhatian mereka di mana cengkeh menjadi buruan. Hal ini juga mengundang minat bangsa Eropa lainnya, seperti Spanyol dan Belanda. Mereka saling bersaing untuk menguasai wilayah di jalur rempah, yang saat itu akhirnya dimonopoli oleh Belanda.

 

Di akhir abad 16, salah satu gubernur jenderal Belanda sedang menanam dan mengembangkan cengkeh di Maluku. Kesohoran Ternate dan Tidore akan cengkeh––yang saat itu sedang diperebutkan oleh Spanyol dan Portugis––memancing Belanda untuk membakar lahan perkebunan cengkeh di sana secara besar-besaran.

Peristiwa itu juga yang akhirnya memancing perlawanan terhadap Belanda dari Kesultanan Ternate dan Tidore.

Beberapa bangunan bersejarah yang bisa Anda kunjungi adalah Benteng Tolukko Kuno,  benteng pertama di Ternate. Didirikan pada 1512 oleh Portugis. Ada pula Benteng Oranye, yang menjadi kantor VOC.

Pemandangan alamnya pun memanjakan mata. Ada Gunung Gamalama yang bisa dicapai dalam 5 jam untuk menuju puncaknya dan melihat panorama laut.

 

Foto: Oleksajewicz/Benito Anu/iStock