Di Balik Manisnya Gula Kelapa Ciletuh

Jangan lupa beli gula kelapa saat jalan-jalan ke Ciletuh Geopark. Proses pembuatannya masih mengandalkan teknologi tradisional, bahan-bahannya pun masih alami. Manis asli...

Tradisi kuliner Nusantara tak bisa dilepaskan dari keberadaan gula merah atau gula kelapa. Hampir semua olahan kuliner di berbagai daerah di Indonesia, memakai gula merah atau gula kelapa. Tak hanya cita rasa manisnya yang unik, tapi proses pembuatannya juga istimewa. Di banyak daerah, gula kelapa masih diproduksi secara tradisional. Salah satunya, gula kelapa dari Ciletuh, Sukabumi, Jawa Barat.

Petani-petani gula kelapa di Panenjoan, Sukabumi, langsung mengolah sari kelapa agar menjadi gula merah. Sari kelapa yang diambil dari bakal buah kelapa, ditampung dalam jerigen kapasitas 5 liter. Perhari dari 1 pohon kelapa para petani bisa menghasilkan 25 liter bila kondisi cuaca sedang bagus.


Cara Tradisional, Bahan Alami
Gula kelapa Ciletuh masih dibuat dengan cara tradisional. Tak ada mesin modern, semua masih mengandalkan perlengkapan tradisional, tenaga manusia dan cuaca atau cahaya matahari. Karena itu, proses pembuatannya jadi memakan waktu cukup panjang.

Gula kelapa Ciletuh ini masih memakai bahan-bahan asli, alami. Tak ada campuran bahan kimiwa. Gula kelapa diperoleh dari sari kelapa yang diproses. Proses memasak air lahang atau sari kelapa biasanya dilakukan selama 5 jam.

Dalam 1 hari dengan kondisi cuaca yang kurang bagus, petani gula kelapa biasanya bisa menghasilkan 1 pack yang berisi 15 gelas cetakan kayu setinggi 10cm. Beratnya bisa mencapai 9 kg, namun bila cuaca sedang bagus bisa menghasilkan 40kg/hari.

Dari tangan petani gula, gula kelapa ini dipasarkan ke pengepul yang akan mendistribusikan lagi ke pedagang di pasar-pasar atau toko. "Untuk penjualannya sudah ada pengepul yang membandrol harga sebesar Rp. 8000/kg. Bila kondisi cuaca sedang tidak bagus hanya mendapat upah kurang lebih Rp. 76-100 ribu," ujar Asep, 35 tahun, petani gula kelapa asal Kampung Cibogo, Desa Taman Jaya, Kecamatan Ciemas, Kabupaten Sukabumi.

Foto : Fahmiklines