Istano Basa Pagaruyung, Besarnya Kerajaan di Tanah Minang

Dahulunya dipakai sebagai pusat pemerintahan dan tempat tinggal raja. Kini, Istano Basa Pagaruyung dipakai sebagai pusat pengembangan budaya Minangkabau. Banyak hal menarik yang bisa kita pelajari di sini, loh! Bisa buat narsis juga!

Daerah Batusangkar di Tanah Datar, Sumatera Barat bisa dibilang sebagai Kota Budaya di tanah Minang. Konon, daerah Batusangkar juga sering disebut sebagai asal usal munculnya nenek moyang Suku Minangkabau. Tidak heran kalau di Batusangkar banyak objek wisata yang berkaitan dengan sejarah Minang, salah satunya Istano Basa Pagaruyung.

Istano Basa Pagaruyung dalam bahasa Indonesia berarti Istana Besar Kerajaan Pagaruyung. Bentuknya yang besar sesuai dengan fungsinya, yaitu sebagai tempat tinggal keluarga kerajaan dan pusat pemerintahan pada masa itu. Selain istana utamanya terdapat pula beberapa bangunan lain di halamannya. Seperti Tabuah, Surau, Pincuran Tujuah, hingga dapur.

Dari luar saja kita sudah bisa merasakan budaya Minangkabau yang begitu kental. Hal ini bisa kita lihat dari ukiran-ukiran yang terdapat pada dinding luar Istano Basa Pagaruyung. Begitu masuk ke dalam istana, suasana Minangkabau makin terasa. Mata kita pun langsung tertuju pada singgasana Raja Alam yang ditutupi kelambu.

Istano Basa Pagaruyung memiliki 3 tingkat. Di lantai dasar selain ada singgasana raja, terdapat pula tujuh kamar putri raja yang telah menikah. Kamarnya ditutupi kelambu warna-warni. Selain itu terdapat pula pernak-pernik peninggalan kerajaan yang dipajang di lantai dasar. Menariknya, di lantai dasar juga ada komputer yang menjelaskan sejarah singkat istana ini.

Sedangkan di lantai kedua merupakan ruang aktivitas bagi para putri raja yang belum menikah. Sementara itu ruangan teratas merupakan tempat raja dan permaisuri bersantai sambil melihat kondisi di sekitar istana.

Sekarang Istano Basa Pagaruyung dijadikan sebagai pusat pengembangan adat dan budaya Minangkabau. Kita pun bisa mencoba menjadi orang Minang dengan menyewa pakaian adat khas Minangkabau seharga Rp30.000 saja. Pakaian adat ini bisa kita pakai untuk berfoto dengan latar istana yang besar.

Istano Basa Pagaruyung sudah direnovasi sebanyak dua kali. Dikarenakan istana besar ini pernah terbakar sebanyak dua kali. Istananya terakhir terbakar pada tahun 2007 silam. Lalu dibangun kembali mundur sejauh 200 meter dari posisi sebelumnya. Hal ini karena kepercayaan orang Miang untuk menghindari kejadian serupa terulang kembali.

Untuk menuju ke Istano Basa Pagaruyung kita membutuhkan waktu sekitar 2 jam dari Kota Padang. Sepanjang perjalanan kita akan melewati daerah perbukitan dengan hamparan sawah-sawah yang menghijau. Sedangkan untuk masuk area istana kita harus membayar tiket seharga Rp15.000.

Menarik, bukan? Berwisata sekaligus mempelajari budaya Minangkabau.