Ruwat Gimbal, Budaya Dieng Tahunan nan Dinanti-nanti

Ruwat gimbal tahun 2018 ini jadi spesial. Di suhu 11 Derajat, 11 Anak Gimbal merilis 11 Permintaan.

Pagi itu kabut tipis mulai menuruni perbukitan di Dieng. Cahaya mentari pagi mulai membias seakan membelah kabut dingin menyelimuti sebelas anak gimbal yang diarak ke panggung utama Dieng Culture Festival 2018 bertempat di pelataran kompleks Candi Arjuna, Banjarnegara.

Para gadis kecil dengan rona merah di pipinya khas anak-anak Dieng yang akan menjalani prosesi pemotongan rambut di tengah hawa dingin yang mencapai 11 derajat celcius. Kostum khas balutan kain berwarna putih hingga ikat kepala yang menutupi rambut gimbal mereka, mulai terjamah oleh air suci lengkap mengenakan kain batik alias jarik.

Di tengah puluhan ribu wisatawan yang penasaran dengan ritual Bumi khas negeri di atas awan, sebelas anak gimbal tampak tak grogi. Mereka sesekali malah melambaikan tangannya seakan bersiap menjalankan kehidupan baru mereka.

Pemangku adat warga setempat, yakni Mbah Sumarsono dan Mbah Sumanto, sudah bersedia di muka panggung. Kedua sesepuh Dieng itu memakai pakaian Jawa komplet dengan sorjan warna hitam dan cream. Mereka berjaga didampingi para penabuh gamelan dan pembawa ubo-rampe ngalap berkah.

Prosesi pemotongan rambut anak gimbal adalah ritual rutin. Masyarakat wajib mengupacarainya dengan rangkaian adat. Para anak gimbal ini konon dipercaya sebagai titisan Kyai Kolo Dete, leluhur Dieng yang hidup sejak abad ke-14. Rambut mereka akan berubah gimbal kalau mereka dianggap 'terpilih'.

Fenomena itu terjadi tanpa bisa dijelaskan secara ilmiah. Sebab, rambut gimbal tumbuh tanpa disadari anak-anak. Bahkan bukan dari garis keturunan dan tidak muncul sejak lahir. Rambut gimbal bisa dipotong kalau si anak sudah memintanya. Namun dengan syarat khusus. Selain dengan ritual, keinginan para anak hukumnya wajib terwujud dengan permintaan yang tak biasa.

Prosesi pemotongan rambut gimbal yang dilakukan bersamaan dengan Dieng Culture Festival 2018, permohonan para anak gimbal sungguhlah unik. Anak pertama, yakni Zalia Kiranya Zalia Widardo (4 tahun) memiliki permintaan es krim rasa Cokelat. Anak kedua, Laela Handayani (6) yang berasal dari Cikampek, Jawa Barat, meminta tablet untuk mainan bergambar Apel.

Adapun anak ketiga, Nadhira Thafana Pramarsetyo (4) meminta ikan Lele satu ekor. Anak keempat, Aulia Malihatunisa (7) memiliki permohonan ponsel, sepeda, boneka dan baju muslim.

Fitria Nur Rahmadzani (8) anak kelima, meminta sepeda, bakso, wortel, burung kenari, ayam dan tempe gembus. Anak keenam, Mysha Kirana Saputra (5) meminta tiga ekor entok dan sepatu roda.

Anak ketujuh, Salwa Khoirun Nisa (7) meminta kerupuk rambak dan permen Yupi masing-masing dua bungkus. Anak kedelapan, Nibaul Khasanah (6) meminta sepeda warna merah jambu dan sepatu sekolah lengkap dengan kaus kakinya.

Sedangkan anak kesembilan, yakni Elsa Fitriani (9) meminta roti Regal bermerek Mari sebanyak dua bungkus besar dan Kambing jantan. Kemudian anak kesepuluh, Nurlela Herawati (12) meminta kue bolu Black Forest. Anak kesebelas, Puput Cahyaningsih (7) meminta ponsel dan mercon.

Permintaan tak biasa ini diberikan sewaktu prosesi pemotongan rambut gimbal usai. Sungguh wujud fenomena budaya yang harus dihargai dan dilestarikan. Memang terkesan tak bisa dipahami dan tetap menjadi sebuah misteri.