Rumah Gadang Hanya untuk Perempuan Minangkabau?

Memiliki karakteristik bangunan berarsitektur yang khas, membuat Rumah Gadang mudah dikenali dan menjadi identitas masyarakat Minang. Tapi apakah benar, Rumah Gadang Hanya untuk kaum perempuan Minangkabau saja?

Rumah Gadang, rumah adat Minangkabau, Sumatera Barat. Rumah adat ini merupakan salah satu dari sekian banyak hasil peradaban kebudayaan dan seni tradisi di Indonesia, sekaligus simbol arsitektur yang dimiliki oleh etnis Minangkabau.

Walau sebagai salah satu warisan budaya, kita tidak bisa dengan mudah menemui Rumah Gadang di Sumatera Barat. Karena tidak semua kawasan di Minangkabau boleh mendirikan rumah adat ini. Pendirian Rumah Gadang hanya boleh pada kawasan yang sudah memiliki status sebagai Nagari saja, dan hanya boleh didirikan oleh masyarakat asli Minangkabau.

Bagi masyarakat Minangkabau, Rumah Gadang ini menjadi simbol tradisi matrilineal, yang mana rumah ini dimiliki oleh kaum perempuan dan garis keturunan perempuannya. Selain menjadi tempat tinggal bagi garis keturunanan matrilineal, Rumah Gadang juga menjadi tempat melaksanakan kegiatan adat dan ritual di Minangkabau.

Tak hanya menjadi tempat tinggal bersama, Rumah Gadang memiliki ketentuan tersendiri. Jumlah kamar pun bergantung pada jumlah perempuan yang tinggal di dalamnya. Setiap perempuan yang telah bersuami akan memperoleh sebuah kamar, sementara perempuan tua dan anak-anak memperoleh tempat di kamar dekat dapur. Sedangkan gadis remaja menempati kamar bersama di ujung lainnya.

Rumah Gadang terbagi atas lanjar dan ruang, yang ditandai oleh sebuah tiang. Tiang itu berbanjar dari muka ke belakang, dan dari kiri ke kanan. Tiang yang berbanjar dari depan ke belakang menandai lanjar. Sedangkan tiang dari kiri ke kanan menandai ruang. Jumlah lanjar bergantung pada luas rumah, bisa dua, tiga ataupun empat, dan ruangannya pun berjumlah ganjil.

Di halaman depan rumah, biasanya terdapat dua buah bangunan Rangkiang, yang digunakan untuk menyimpan padi. Pada bagian sayap Rumah Gadang sebelah kanan dan kirinya terdapat ruang anjung, sebagai tempat pengantin bersanding atau tempat penobatan kepala adat.


Arsitektur Rumah Gadang
Bentuk arsitekturnya sangat unik, yakni dengan bentuk atapnya runcing yang menyerupai tanduk kerbau, dan terbuat dari bahan ijuk yang dapat tahan hingga puluhan tahun. Belakangan, atap rumah ini banyak berganti dengan menggunakan atap seng.

Rumah Gadang dibuat dengan bentuk 4 persegi panjang, dan dibagi atas dua bagian, muka dan belakang. Pada bagian depan biasanya penuh dengan ukiran ornamen dan umumnya bermotif akar, bunga dan daun. Sedangkan bagian luar belakang dilapisi dengan bambu.

Rumah tradisional ini dibangun dari tiang-tiang panjang yang tidak mudah runtuh oleh goncangan. Pada umumnya, Rumah Gadang memiliki satu tangga yang terletak di bagian depan. Sementara di dapur dibangun terpisah di bagian belakang rumah.