Laweyan, Lokasi Berburu Batik Khas Solo

Kawasan heritage yang terkenal dengan nilai sejarah, edukasi, dan kelestarian budayanya. Laweyan, kampung saudagar batik khas Solo dengan rumah-rumah lawas yang cantik.

Saat memasuki lorong kecil Kampung Laweyan, akan terlihat tembok-tembok rumah yang menjulang tinggi yang membuat penasaran orang yang lalu lalang di depannya. Menempati lahan seluas kurang lebih 24 hektar, di sepanjang lorong Kampung Laweyan pengunjung bisa melihat deretan rumah para saudagar batik yang menggelar berbagai kerajinan batik.

Cikal Bakal Serikat Dagang Islam
Dulu, sebagai kampung saudagar batik, pintu-pintu rumah di Kampung Laweyan hanya boleh dimasuki orang tertentu. Namun kini setiap rumah justru membuka pintunya lebar-lebar bagi wisatawan yang ingin membeli atau mengetahui seluk-beluk batik.

Di Kampung Laweyan ini, pengunjung bisa belajar cara membatik dari warga setempat yang menjadikan kediamannya sekaligus sebagai bengkel dan showroom batik. Uniknya, interior rumah di kawasan ini masih terasa begitu kental dengan ciri khas Jawa. Saat memasuki pintu gerbang, akan terlihat iInterior rumah yang begitu megah layaknya istana keraton Jawa.

Para pengrajin batik di kawasan ini rata-rata adalah ibu-ibu, bahkan ada pula yang sudah memasuki usia senja. Mereka telah menjadi pengrajin batik sejak usia remaja.

Konon, Kampung Laweyan merupakan pemukiman kuno yang sudah ada sejak zaman Kerajaan Pajang di tahun 1500-an. Kampung Laweyan juga terkenal sebagai daerah cikal bakal Serikat Dagang Islam yang didirikan oleh saudagar batik KH Samanhudi. Karena letaknya di tepi Sungai Banaran yang terhubung dengan Sungai Bengawan Solo, 5 km dari pusat kota Solo, di masa lalu Laweyan pernah menjadi pusat perdagangan yang sangat ramai.

Pengrajin di Kampung Laweyan membuat ratusan jenis motif batik Solo, kecenderungannya warna yang terang. Satu kain batik tulis, rata-rata dikerjakan selama kurang lebih 2 minggu. Bahkan ada yang memakan waktu hingga berbulan-bulan, tergantung dari kerumitan motif batik yang dikerjakan. Karena proses pengerjaannya yang lebih panjang, harga batik tulis relatif lebih mahal dari pada batik cap.

Letak Kampung Batik Laweyan tidak jauh dari Stasiun Purwosari. Kampung Laweyan bisa dicapai dengan becak yang berada di sepanjang tepi jalan utama Solo atau Jalan Slamet Riyadi. Lebih baik memakai kendaraan umum, karena keterbatasan area parkir di sekitar Kampung Laweyan.

Kampung Laweyan memiliki peran cukup penting dalam sejarah perkembangan kota Solo. Sebagai penghasil batik tulis, cap, dan kombinasi tulis cap serta printing, Kampung Laweyan berhasil membuat batik Solo dikenal oleh khalayak masyarakat luas.