Menyusuri Jejak Tjong A Fie

Menemukan jejak sejarah orang Tionghoa di Medan, Sumatera, tidak akan terasa benar jika tidak dihentikan oleh rumah besar Walikota Tjong A Fie - pengusaha memiliki karet, tembakau dan teh pada awal 1900-an.

Ini dimulai beberapa waktu lalu, keturunannya telah menjual paket wisata ke rumah-rumah yang terletak di Jalan Ahmad Yani, melintasi restoran Tip Top.

 

Sebagai percobaan, awalnya mereka menargetkan bisa membuka kunjungan selama dua bulan. Tapi baru dua bulan, mereka sudah menerima kedatangan lebih dari tiga ribu pengunjung, tiket per orang untuk membayar Rp 35.000. Antusiasme masyarakat menunjukkan bangunan kuno yang terawat baik yang memiliki daya pikat. "Sembilan puluh persen dari usaha ini akan dilanjutkan. Uang tiket digunakan untuk biaya perawatan", kata panitia Fon Prawira,.

 

Rumah Tjong A Fie dibangun pada tahun 1895, dengan masa konstruksi lima tahun oleh arsitek dari China. Bangunan bergaya Cina, Eropa dan Melayu menggambarkan pemilik yang konon sangat dekat dengan semua orang, suku dan ras di Medan, juga wanita untuk menikahi orang Melayu Tionghoa. Terdiri dari tiga bagian utama: bangunan utama sekaligus bangunan di sayap kiri dibuka untuk mumu, sedangkan sayap kanan bangunan diperuntukkan bagi keluarga. Momen abad terakhir ini tercatat dalam bingkai foto hitam dan putih di beberapa ruangan. Lukisan oleh seniman lokal dipajang hari ini di ruangan lain.

 

Semua dikemas rapi, sehingga saat pengunjung memasuki ruangan mereka akan bisa melihat sekilas ke kawasan atmosfer beberapa abad yang lalu. Inilah yang dimaksud dengan penggunaan readoptive, pengenalan fungsi baru ke dalam warisan budaya, saat objek dibuka agar masyarakat menambahkan "jual" itu. Apakah anda tertarik datang ke tempat tinggal yang menawan ini?

 

National Geographic Indonesia

Lawas