348 Anak Tangga Menuju Benteng Otanaha

Tak mudah mencapai bentek di perbukitan Gorontalo ini. Mesti berjuang menapaki 348 anak tangga dengan 4 pemberhentian untuk sampai ke benteng batu yang direkatkan dengan telur burung maleo ini.

Benteng Otanaha merupakan salah satu objek wisata cagar budaya yang terletak di Kelurahan Dembe 1, Kecamatan Kota Barat, Kota Gorontalo, Provinsi Gorontalo. Cukup berkendara sekitar 20 menit dari kota Gorontalo untuk menuju ke salah satu destinasi wisata sejarah yang bernilai istimewa bagi masyarakat Gorontalo di ujung utara Sulawaesi ini.

Begitu tiba di pintu gerbang cagar budaya ini, kita akan disambut ratusan anak tangga yang bersusun rapi di punggung bukit. Keringat akan bercucuran dan jantung akan berdegub kencang menaiki satu per satu anak tangga yang akan membawah kita menuju gerbang Benteng Otanaha.

Benteng ini berbentuk bulat mirip dengan bentuk colosseum dengan satu pintu yang menghadap ke arah barat. Bagian selatan benteng ini dipagari perbukitan tinggi sedangkan bagian utaranya terhampar lansekap Danau Limboto dan Kota Gorontalo.

Benteng Otanaha terdiri atas 3 bangunan benteng. Benteng lainnya berukuran lebih kecil dari benteng utama. Kedudukannya sedikit lebih di bawah dari benteng utama. Konon benteng ini dibangun dengan menggunakan telur burung maleo sebagai perekat susunan batu dari benteng ini.


Peninggalan Kerajaan Bone dan Gorontalo
Ada 2 versi cerita tentang benteng Otanaha. Menurut sejarah Gorontalo, pada abad 15 berdiri Kerajaan Pinohu (Pinogu) yang diperintah oleh Raja Wadipalapa. Ia berasal dari Langit, yang oleh orang Bugis-Makassar dikenal dengan nama "Remmang Ri Langi". Ketika raja ini mangkat, kerajaan Pinohu berubah nama menjadi Tuwawa (Suwawa). Pada tahun 1481 berubah lagi dengan nama kerajaan Bune (Bone).

Sekitar tahun 1585, muncul salah seorang keturunan raja yang digelari rakyatnya dengan Wadipalapa II. Di tangan Wadipalapa II inilah muncul gagasan untuk memperluas kerajaan Bone dengan cara damai. Maka dikirimlah 2 tim ‘survey’, satu ke jalur utara dari Suwawa, Wonggaditi terus ke Huntu Lo Bohu dipimpin Hemeto. Sedang jalur selatan mulai dari Potanga, Dembe, terus ke Panipi dipimpin oleh Naha. Jalur Utara yang dinakhodai Hemeto tiba di Dembe dan menemukan benteng di atas bukit tersebut.

Versi lain, tentang kisah anak dari Raja Ilato dan Permaisuri Tilangohula yang memerintah Kerajaan Gorontalo pada abad 15. Naha memiliki dua saudara, Ndoba dan Tiliaya. Saat remaja ia merantau ke negeri seberang. Sampai suatu masa, Ndoba dan Tiliaya kembali dan memimpin perlawanan mengusir Portugis yang dianggap memperalat mereka dalam mengusir para bajak laut.

Kerajaan Gorontalo sebelumnya membantu pelaut Portugis setelah pelayaran mereka terganggu oleh cuaca buruk dan bajak laut serta kehabisan makanan. Guna memperkuat pertahanan dan keamanan negeri, maka dibuatlah 3 benteng di Kelurahan Dembe sekarang.

Dalam pertempuran mengusir Portugis, Ndoba dan Tiliaya dibantu oleh angkatan laut yang dipimpin 4 orang, yakni, Apitalao Lakoro, Apitalao Lagona, Apitalao Lakadjo, dan Apitalao Djailani. Sekitar 1585, Naha kembali dan menemukan benteng tersebut, dan kemudian memperisteri seorang perempuan bernama Ohihiya.

Teks & Foto Oleh Josua Marunduh