Jalangkote, Kembaran Pastel dari Makassar

Namanya berasal dari kata Jalang dan Kote. Bentuknya sekilas sangat mirip dengan pastel. Tapi coba gigit kulitnya yang crispy, ditemani sambal cuka jalangkote. Pedasnya memang lebih jalang...

Pemerintah kota Makassar menetapkan 10 ikon kuliner tradisional khas Makassar. Satu di antaranya adalah Jalangkote. Jalangkote berasal dari kata 'jalang' yang berarti jalan, dan “kote’” yang berarti berkotek-kotek atau teriak.

Artinya, makan jalangkote bikin kita jalan sambil berkotek? Hehe, enggak lah...

Kuliner khas Makassar ini mendapat nama tersebut, karena dulunya jalangkote dijajakan oleh anak kecil yang berjualan keliling dari rumah ke rumah, kampung ke kampung. Mereka berjalan kaki sambil berteriak menjajakan jajanan gurih ini.


Ditemani Sambal Cuka
Jalangkote bisa dibilang adalah kembaran pastel. Perbedaannya ada di kulitnya. Kulit pastel biasanya lebih tebal dibandingkan dengan jalangkote. Meski begitu bentuknya sangat mirip pastel.

Lalu, kalau pastel pada umumnya hanya berisi bihun dengan wortel, telur atau sedikit daging ayam cincang. Pastel Makassar alias jalangkote isinya lebih komplet. Ada wortel, kentang, tauge, ubi cacah yang dipadu dengan bawang putih, bawang merah. Ada juga yang membuat jalangkote dengan bahan-bahan dari telur rebus dan daging sapi cincang.

Semua itu terbungkus oleh kulit berwarna coklat dari tepung terigu dan digoreng. Kulih jalangkote lebih tipis, renyah, crispy bila disantap tak lama setelah mendarat dari penggorengan.

Selain gurihnya isi dan kulit yang renyah, kunci kenikmatan jalangkote ada di sambalnya. Jadi kalau pastel biasa disantap dengan cabai atau sambal kacang, di Makassar mereka punya sambal khusus untuk jalangkote.

Sambal jalangkote terbuat dari campuran air cuka, air sisa tumisan isian Jalangkote’, bawang putih, gula, cabe besar untuk memberikan warna dan cabai kecil atau rawit, untuk sensasi pedas yang sesungguhnya.

Foto : Sandy Mahendra