Menengok Lukisan Purba di Taman Prasejarah Leang-Leang

Tersembunyi di deretan bukit karst Maros, terdapat gua prasejarah dengan lukisan yang dibuat 5000 tahun silam. Arkeolog menduga gua ini sudah digunakan sejak masa 8000 - 3000 tahun sebelum Masehi.

Dalam bahasa orang Maros, leang-leang berarti gua. Gua di barisan gunung batu di sepanjang Kabupaten Maros banyak ditemukan dan hampir semua terbentuk karena proses alam. Pada satu titik kira-kira berjarak 11 km dari Salenrang di kabupaten Maros, terdapat gua yang unik karena di dalamnya terdapat peninggalan prasejarah.


Lukisan 5000 Tahun
Pada tahun 1950 menurut Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Maros, ahli arkeologi dari Belanda yaitu Van Heekeren dan Miss Heeren Palm menemukan gambar pada dinding batu yang berwarna merah marun di Gua Pettakere dan Gua Pettae.

Mereka menemukan gambar telapak tangan dan gambar babi rusa. Ada dugaan lukisan prasejarah itu berumur 5000 tahun silam dan mereka menduga gua itu digunakan sejak tahun 8000 hingga 3000 sebelum masehi.

Untuk menjangkau lukisan telapak tangan itu kita harus menuju gua yang terletak di atas ketinggian kurang lebih 50 meter dengan menaiki tangga besi. Ada baiknya kita meminta didampingi oleh pemandu untuk dibukakan pintunya. Pihak pengelola taman wisata prasejarah Leang-leang ini tidak ingin sembarang orang bisa masuk tanpa pengawasan karena dikhawatirkan tangan jahil akan merusak lukisan yang ada atau mengotori lingkungan dalam gua.

Setelah sampai di atas kita harus sedikit memanjat batu untuk melihat dari dekat lukisan telapak tangan. Kita boleh memotret lukisan tersebut atau memotret pemandangan di bawah gunung selayang pandang. Setelah puas dengan lukisan itu kita kembali ke dalam gua untuk menyusuri hingga bertemu lubang di sisi lainnya.

Hanya saja untuk masuk ke gua kita harus berhati-hati karena dinding gua yang rendah di bagian pintu masuk dan tentu saja gelap di bagian dalam. Namun jangan khawatir karena gua tidak terlalu jauh ke dalam dan lubang di depan dekat saja, maka kita terbantu dengan semburat cahaya yang menerobos dari lubang itu.

Setelah kita dekati ternyata lubang itu bukan jalan keluar hanya seperti jendela. Disana kita dapati batang dan akar pohon yang membentuk teralis yang menahan kita agar tidak bisa keluar. Seolah-olah alam memberi pengaman untuk kita karena jika ditengok ke bawah melalui celah teralis itu menganga tebing yang curam. Betapa memang alam sungguh bersahabat dengan kita.

Foto : Sandy Mahendra