Benteng Jepang dengan Pohon Keramat di Aceh

Benteng ini juga dikenal dengan nama Benteng Anoi Itam, sekitar 12 km dari pusat Kota Sabang atau Pulau Weh. Benteng Jepang ini menjadi saksi bersejarah pada saat penjajahan Jepang 73 tahun silam. Di area benteng juga tumbuh sebuah pohon keramat yang masih menyimpan misteri.

Benteng peninggalan Jepang ini dibangun antara tahun 1942-1945, dan digunakan sebagai tempat berlindung pasukan Jepang sekaligus tempat menyimpan berbagai macam jenis senjata mereka. Tentara Jepang mendarat di Pulau Weh, Sabang pada 12 Maret 1942. Para serdadu Negeri Sakura tersebut lalu menggali terowongan bawah tanah di sepanjang pantai sebagai benteng pertahanan, yang kini dikenal sebagai Benteng Anoi Itam.

Namun setelah tiga tahun lebih terlibat Perang Dunia II, mereka takluk dari Pasukan Sekutu dan meninggalkan semua wilayah jajahannya. Termasuk meninggalkan Benteng Anoi Itam ini. Karena dekat dengan Pantai Anoi Itam maka benteng ini dinamakan sesuai dengan lokasinya.

Saat memasuki lokasi Benteng Anoi Itam, kita akan disuguhi pemandangan bukit dengan anak tangga dan pepohonan yang rindang. Suasana pantai yang indah dan benteng kecil yang berada di bawah kaki bukit membuat elok lokasi wisata bersejarah ini. Di kiri jalan setapak yang kita lalui akan ditemukan bungker-bungker kecil.

Disekitar benteng juga terdapat sebuah bangunan yang digunakan sebagai menara bidik. Bangunan ini dibuat setengah ke dalam tanah dan hanya menyisakan menara bidik untuk mengintai musuh dari atas bukit. Di benteng ini juga masih terdapat meriam dengan panjang lebih dari 3 meter.


Pohon Stigi di Atas Benteng
Di ujung Benteng Anoi Itam terdapat pohon yang sangat langka, masyarakat setempat biasa menyebutnya pohon Stigi. Menurut legenda masyarakat, pohon ini memiliki aura magis yang sangat kental.

Konon, batang kayu yang sangat keras ini terbuat dari tongkat komando para prajurit pejuang kemerdekaan. Tak sedikit masyarakat percaya bahwa jika memiliki batang kayu ini dapat menambah wibawa seseorang.

Bahkan tak sedikit masyarakat yang menyebut pohon ini sebagai Raja Kayu Bertuah. Pohon ini terbagi menjadi dua jenis yakni, Stigi Laut dan Stigi Darat. Karena kelangkaannya, pohon ini pun dilarang ditebang dan dibiarkan tumbuh begitu saja di atas bukit.