Wisata Budaya Bahari di Pelabuhan Paotere

Pelabuhan kapal-kapal kayu di pinggiran Makassar. Tempat paling sempurna untuk mengenal dan mengabadikan budaya dan semangat bahari orang Bugis.

Kota Makassar sebagian areanya dikelilingi oleh garis pantai dan memiliki sejumlah pelabuhan. Sebut saja Pelabuhan Nusantara Soekarno-Hatta yang melayani kapal penumpang besar seperti kapal milik Pelni, pelabuhan peti kemas, pelabuhan milik polisi air, dan beberapa pelabuhan kecil dan trasional yang melayani kapal ukuran kecil.

Salah satu diantaranya Paotere. Dikenal sebagai pelabuhan kapal nelayan maupun kapal pengangkut barang dengan menggunakan kapal kayu. Terletak sekitar 5 kilometer dari pusat kota tepatnya sebelah utara Makassar.


Kapal Kayu Tangguh
Pelabuhan Paotere disamping berfungsi sebagai urat nadi perekonomian juga dijadikan  tujuan wisata untuk pelancong yang mau melihat-lihat kegiatan bongkar muat kapal maupun para nelayan yang membawa hasil tangkapan mereka.

Ohiya, disamping itu juga ada satu sisi pelabuhan untuk membawa penumpang, walau sedikit tapi tidak bergabung dengan kapal nelayan ataupun kapal barang. Hanya di sebuah muara sebelum pintu masuk area pelabuhan tempat dimana penumpang naik atau turun dari pulau-pulau di seberang.

Mau masuk pelabuhan? Cukup dengan Rp 15.000 untuk 2 orang dengan 1 mobil kita bisa masuk area pelabuhan Paotere dan bebas melihat aktifitas apa yang ada disana.

Ada ikan segar hasil tangkapan nelayan, ada yang sedang merajut jala, ada yang bongkar muat barang, dan kita bisa memotret kegiatan mereka tanpa mereka merasa terganggu, tapi ingat sejauh kita tidak terlalu dekat dan pastikan mereka nyaman untuk difoto.

Ukuran kapal kayu di pelabuhan Paotere tidak terlalu besar dibanding dengan kapal milik Pelni yang tahan ombak besar dan angin kencang. Namun orang Bugis sejak dulu dikenal sebagai pelaut ulung. Kapal-kapal ini tangguh menyeberangi lautan ke berbagai penjuru Nusantara.  Untuk menebarkan jala atau membawa bahan sembako untuk kebutuhan masyarakat Sulawesi Selatan.

Nenek moyangku orang pelaut, gemar mengarung luas samudra.

Menerjang ombak tiada takut, menempuh badai sudah biasa!

Foto : Sandy Mahendra