Berburu Ikan Segar di Pasar Keruak Lombok Timur

Menjadi salah satu penghasil ikan terbesar di Lombok, Pasar Keruak memiliki tradisi unik yang dilakukan sejak lama. Hal ini bertujuan untuk memberikan rasa syukur atas limpahan hasil laut tangkapan para nelayan di Keruak.

Keruak merupakan nama sebuah Kecamatan di Kabupaten Lombok Timur, Nusa Tenggara Barat, Indonesia. Terletak di Selatan Kecamatan Sakra Barat Pasar Keruak merupakan salah satu sentra produksi perikanan laut di Lombok Timur. Hal ini dikarenakan tempatnya dekat dengan pelabuhan Tanjung Luar.

Perairan Lombok merupakan penghasil berbagai macam tangkapan laut dalam jumlah besar. Tak heran jika Pasar Keruak menjadi salah satu surga seafood murah dan menawarkan berbagai jenis hidangan laut.

Jika Sobat Pesona ingin merasakan sensasi ramainya Pasar Keruak dan melihat ikan-ikan segar, cobalah untuk datang pada pukul 5 pagi ke Pasar Keruak ini. Setibanya kita di sana akan disuguhkan dengan suasana pasar ikan yang ramai sekali. Beberapa nelayan sedang menurunkan hasil tangkapan mereka yang kemudian hasilnya akan dibawa ke tempat pelelangan yang sudah ditunggu oleh para pembeli.

Selain ikan yang masih segar, ada juga ikan asap yang dijual di Pasar Keruak ini. Jenisnya pun beraneka ragam, di antaranya ikan tuna, tentakel gurita, ikan pari, ikan dorang, hingga ikan ekor kuning. Ikan yang diasapkan terlebih dahulu biasanya lebih tahan lama.

Harganya pun bervariasi, namun tetap ramah kantong. Untuk ikan tuna asap misalnya, kita hanya perlu merogoh kocek sebesar Rp2.500 untuk tiga tusuk ikan tuna asap, loh. Sedangkan tentakel gurita asap dibanderol dengan harga Rp10.000 saja. Dengan harga yang lumayan murah kita sudah bisa mendapatkan 3 tusuk tentakel gurita asap.


Ritual Masyarakat Keruak
Sebagai bentuk rasa syukur sekaligus pengharapan agar hasil ikan tangkapan mereka terus meningkat. Masyarakat Keruak kerap melakukan syukuran dengan menggelar ritual Nyalamak Dilau, yang artinya menghanyutkan kepala kerbau ke lokasi batu karang di tengah laut.

Untuk melakukan ritual ini, biasanya masyarakat Keruak mempersiapkan kepala kerbau yang sudah dipotong 3 hari sebelum ritual berlangsung. Tanduk dan gigi kerbau akan dihias dengan benang emas seberat 0,5 gram, dan diletakkan di dalam tempat yang kemudian dibalut dengan kain putih.

Saat ritual akan dimulai, ratusan perahu nelayan sudah menunggu dibibir pantai untuk mengiringi dua sampan yang disatukan sebagai tumpangan iring-iringan kepala kerbau tersebut. Suara gong, gendang, dan seruling pun dimainkan. Biasanya irama musik bisa membuat beberapa warga mengalami kesurupan, loh.

Tiga hari setelah ritual Nyalamak Dilau, para nelayan baru boleh melaut kembali. Jika ada yang melanggar aturan ini maka akan diberikan sanksi, berupa denda atau penyitaan seluruh hasil tangkapan laut. Prosesi yang digelar masyarakat keturunan Suku Bajo tersebut sudah dilakukan secara turun temurun sejak 400 tahun silam.