Menikmati Surabaya Tempo Dulu di Kya-Kya Pecinan

Kya-Kya Pecinan Surabaya pernah dikembangkan sebagai pusat budaya malam dengan berbagai festival dan bazaar. Mulai diresmikan pada 31 Mei 2003, berada di jalan Kembang Jepun sepanjang 730 meter.

Kata kya-kya berasal dari dialek bahasa Tionghoa, yaitu Hokkien yang berarti jalan-jalan. Pengembangan wilayah Kya Kya menjadi pusat budaya malam dengan suguhan seni jalanan  terinspirasi dari Malioboro Jogja.

Di lokasi ini, suguhan arsitektur Tionghoa sebagai latar belakang pentas budaya semakin memberikan makna keterkaitan budaya lama dengan Surabaya modern. Suguhan festival ngamen, musik keroncong, musik klasik Tiongkok, hingga Barongsai anak-anak dan tari Ngremo Bocah meramaikan malam-malam sepanjang jalan di Kya Kya.

Pada saat tertentu juga digelar acara tematik, seperti Shanghai Night, Dancing on the Street, Agoestoesan Tjap Kya-kya Kembang Djepoen serta Mystical Night, Festival Bulan Purnama dan sebagainya.


Pusat Dagang dan Budaya
Gebrakan keramaian pasar malam khas Kya-Kya hanya berjalan sekitar lima tahun. Kini pada malam hari Kya Kya menjadi tempat sepi nan gelap. Walau begitu mengunjungi Kya Kya tetap bisa dilakukan siang hari. Kawasan Kya-Kya kini masih menjadi pusat bisnis dan perdagangan kota Surabaya ini masih menyisakan gambaran sentra bisnis di masa Kolonial.

Pada siang hari kita bisa menikmati dengan jelas gaya arsitektur lama yang tertata apik dan berkarakter. Di tempat ini masih bisa ditemui bangunan kelenteng lama dan gedung-gedung tua yang biasanya diapakai sebagai objek foto. Sisa-sisa bisnis dan budaya masyarakat Cina masih bisa dilihat dan dinikmati.

Lokasi Kya Kya di jalan Kembang Jepun, dulunya bernama Handelstraat. Nama Kembang Jepun sendiri dikenal sejak pendudukan Jepang. Daerah ini adalah tempat serdadu Jepang (Jepun) memiliki teman-teman wanita geisha (kembang). Banyak fasilitas hiburan yang didirikan di tempat ini pada saat itu. Bahkan ada yang sampai sekarang masih bertahan diantaranya Restoran Kiet Wan Kie, dan pangkas rambut Shin Huadi yang sudah ada sejak era kolonial, tepatnya tahun 1911.


Wayang Potehi, Digelar Setiap Hari
Menyusuri Kya Kya jangan melupakan Jalan Husin. Di salah satu gang bernama Gang Dukuh II, jika beruntung bisa menyaksikan pertunjukkan Wayang Potehi yang digelar di Klenteng Hong Tiek Hian atau Klenteng Dukuh, klenteng tertua di Surabaya. Pertunjukan Wayang Potehi yang dilakukan oleh kelompok Lima Merpati tampil tiga kali sehari, pada pukul  09.00-11.00 WIB, dilanjutkan pukul 13.00-15.00 WIB, dan pukul 18.00-20.00 WIB.

Wayang Potehi sendiri merupakan kesenian klasik yang berasal dari negeri Tiongkok sebagai bagian dari akulturasi budaya Tiongkok di Indonesia. Potehi berasal dari kata pou yang berarti kain, te yang berarti kantong, dan hi yang berarti wayang. Jadi potehi adalah wayang yang terbuat dari boneka kain atau wayang kantong yang diiringi dengan irama simbal Cina.