Disambut Tarian Epik Suku Abui di Desa Takpala

Menjadi salah satu kampung tradisional tertua di Indonesia, Desa Takpala memiliki tradisi penyambutan yang unik. Selain itu, penghuni desa ini, juga merupakan Suku terbesar yang ada di Alor.

Desa Takpala merupakan sebuah kampung tradisional di Desa Lembur Barat, Kecamatan Alor Tengah Utara, Kabupaten Alor, Nusa Tenggara Timur.  Kampung ini dihuni sekitar 13 kepala keluarga Suku Abui, dan menjadi aset wisata yang dianggap sebagai cagar budaya yang dilindungi dalam peraturan daerah Kabupaten Alor.

Desa ini mulai dikenal oleh berbagai wisatawan karena salah satu wisatawan asal Belanda memamerkan foto-foto warga Desa Takpala pada tahun 1973. Ia mengambil foto masyrakat Takpala untuk kalender dan mempromosikan Pulau Alor desa yang masih sangat tradisional.

Terlepas dari itu, Desa Takpala ternyata memiliki budaya yang cukup unik dan menarik. Setiap wisatawan yang berkunjung ke kampung ini, akan disuguhkan tarian tradisional. Dalam tarian itu, akan terdengar suara kerincing gelang kaki yang dihentakan ke tanah oleh wanita-wanita suku Abui.

Terdengar pula syair-syair lagu yang mengiri tarian, menggema dilantunkan ke langit oleh sekumpulan lelaki pejuang yang beratraksi sembari mengangkat senjata dan perisai mereka. Sesekali gerak dan suara teriakan terhenti, menandakan bahwa tamu yang datang harus mengikuti secara perlahan.

Kemudian, para wisatawan akan melewati 21 anak tangga yang dipijak untuk mulai memasuki Desa Takpala. Lalu kita akan hanyut dalam perayaan pesta dan persahabatan melalui Tari Lego-lego yang menawan di Desa Takpala.

Suku Abui Takpala
Kata “Takpala” berasal dari kata “Tak” (artinya ada batasnya), dan kata Pala (kayu) dapat diartikan bahwa Takpala sebagai kayu pembatas. Takpala didiami oleh Suku Abui, yang konon juga menjadi suku terbesar yang berada di Pulau Alor.

Masyarakat Suku Abui sangat ramah dan bersahaja terhadap pendatang, tak heran jika banyak wisatawan yang selalu ingin kembali ke kampung tradisional tertua ini. Kita juga bisa melihat aktivitas sehari-hari dari Suku Abui, seperti memanfaatkan hasil alam dari hutan dengan berladang ataupun berburu. Hasil dari berladang dan berburu akan dikonsumsi dan dijual di pasar untuk memenuhi kebutuhan hidup mereka.