Kopi Wae Rebo, Mutiara Hitam Pegunungan Pocoroko

Wae Rebo, perkampungan adat di pegunungan Pocoroko. Berada sekitar 1200 meter di atas permukaan laut dengan kualitas tanah yang bagus, Wae Rebo menghasilkan salah satu kopi terbaik di Flores.

Wae Rebo terletak di barat daya kota Ruteng, ibu kota Kabupaten Manggarai. Untuk menuju ke Wae Rebo, butuh perjuangan ekstra, berjalan kaki sejauh 9 km, selama 4,5 jam mendaki pegunungan. Daya tarik utama Wae Rebo adalah rumah adatnya, yang disebut Mbaru Niang. Rumah niang berbentuk kerucut dengan atap terbuat dari daun lontar yang jumlahnya hanya ada 7 dan tidak boleh lebih. Sebelum memasuki Wae Rebo, kita akan disambut perkebunan kopi milik warga.

 

Kopi Petik Merah

Wae Rebo dan kopi sepertinya tidak bisa dipisahkan. Keduanya menjadi simbiosa mutualisme yang abadi. Di dalam kehidupan kesehariannya, masyarakat Wae Rebo sangat dekat dengan kopi. Desa di atas pegunungan ini terkenal sebagai penghasil kopi terbaik. Kopi dari desa ini terkenal dengan rasanya yang khas dan mantap.

Konsumsi kopi para laki-laki Wae Rebo tergolong tinggi. Satu orang dewasa bisa menghabiskan hingga 10 gelas kopi dalam sehari. Bertanam kopi menjadi salah satu pencaharian utama orang Modo, warga Wae Rebo.

Selain untuk memenuhi kebutuhannya sendiri, hasil panen kopi dari desa ini juga dijual ke pasar. Para lelaki dari desa ini biasanya turun ke Pasar Kombo di Denge di hari Minggu dengan membawa kopi hasil kebunnya. Kemudian hasil penjualan kopi digunakan untuk membeli bahan kebutuhan pokok, seperti beras dan lauk pauk.

Kopi yang tumbuh di Wae Rebo ada 2 jenis yaitu Robusta yang biasanya tumbuh di atas ketinggian 1000 mdpl dan kopi Arabika yang hidup di 1500 mdpl. Beda kedua kopi tersebut terdapat dari ciri rasa yang dihasilkan dan bentuk buahnya.

Untuk menghasilkan rasa kopi yang khas, masyarakat Wae Rebo tetap mempertahankan proses pembuatan kopi secara tradisional dan jauh dari bahan kimia. Buah kopi yang dipanen pun hanya dilakukan terhadap biji yang benar-benar berwarna merah (petik merah), ini salah satu sebab kuatnya rasa kopi tanpa kehilangan wangi khasnya.

Petik merah menjadikan kualitas kopi lebih baik. Tandannya terhindar dari kemungkinan patah atau tertekuk. Bakal bunga dan calon buah berikutnya selamat dari gamitan tangan. Rentang panen pun lebih lama yakni mulai Maret hingga September, bahkan sampai November untuk jenis robusta. Untuk memudahkan pemisahan biji dari kulitnya, kopi merah direndam semalaman. Selanjutnya diangin-anginkan di atas tikar pandan atau terpal.

Kopi Wae Rebo diproses secara tradisional. Digiling dengan mesin giling sederhana untuk melepaskan kulit kopi dari bijinya. Proses pengeringannya hanya mengandalkan panas matahari selama 1-2 hari. Biji kopi kemudian disangrai dengan kuali besar, baru kemudian ditumbuk dengan alu dan lesung oleh para wanita Wae Rebo.