Mengenal 9 Klan di Kampung Adat Bena Flores

Kampung Adat Bena terletak di Pulau Flores, sekitar 18 km dari Kota Bajawa, dihuni sekitar 750 orang yang masih taat pada tradisi asli leluhur. Para penduduk hidup dari bertani dan berkomunikasi satu sama lain dalam bahasa Ngada.

Masyarakat Kampung Adat Bena hidup dengan simbol-simbol budaya di dalam perkampungan mereka. Kampung adat ini punya ciri khas berundak-undak berbentuk mirip perahu sepanjang 375 meter. Masyarakat Bena percaya bahwa perahu adalah sarana yang dapat membawa arwah ke tempat peristirahatan terakhir. Perahu juga menyimbolkan kerja keras serta gotong royong.

Kampung Adat Bena terletak di Pulau Flores, sekitar 18 km dari Kota Bajawa, dihuni sekitar 750 orang yang masih taat pada tradisi asli leluhur. Para penduduk hidup dari bertani dan berkomunikasi satu sama lain dalam bahasa Ngada.

Masyarakat Bena kebanyakan beragama Katolik, namun masih mengikuti kepercayaan kuno berupa pemujaan leluhur, ritual dan tradisi. Masyarakat Bena mengikuti kekerabatan mengikuti garis ibu, di mana seorang pria yang menikahi luar klannya akan menjadi milik klan istrinya.

Bagi warga Bena, mereka percaya bahwa di puncak Gunung Inerie bersemayam Dewa Zeta pelindungi mereka dan Gunung Inerie dianggap sebagai hak mama (Ibu), serta Gunung Surulaki dianggap sebagai hak bapa (Ayah).

Ada 9 klan yang menghuni Kampung Bena, yaitu Dizi, Dizi Azi, Wahtu, Deru Lalulewa, Deru Solamae, Ngada, Khopa, dan Ago. Setiap klan hidup pada tingkat yang berbeda dari desa berteras, dengan klan Bena di tengahnya. Hal ini karena masyarakat Bena dianggap klan tertua dan pendiri desa, maka menjadi alasan desa tersebut bernama Kampung Bena.

Kampung adat Bena memiliki arsitektur rumah tradisional yang unik. Rumah-rumah yang berdiri di kampung tersebut terbuat dari kayu, susunan batu gunung dengan atap dari alang-alang. Keunikan dan kealamian bahan bangunan rumah adat ini mampu membawa kampung adat Bena bertahan dari sisa megalitikum, sehingga menciptakan kampung adat yang unik yang kaya akan nilai sejarah dan budaya.

Pada area halaman tengah rumah adat kampung Bena terdapat Nga’du, tiang kayu berukir dengan motif satwa yang kedua tangannya memegang parang dan tombak, sebagai simbol nenek moyang laki-laki. Sementara Bha’ga yang menyerupai miniatur rumah melambangkan nenek moyang perempuan dari suku tersebut.


Foto: Jaka Thariq