Gereja Toasebio, Gereja Katolik dengan Akulturasi Budaya Tionghoa

Saking kentalnya nuansa arsitektur Tionghoa pada gereja Toasebio, hingga altar tempat sembahyang dijadikan altar gereja yang didominasi warna merah khas etnis Tiongkok.

Daerah Glodok di Jakarta memang berada kawasan pecinan dan maka dari itu umumnya penduduk seputar Jakarta sekalipun lebih mengidentikkan wilayah Glodok selain dengan pusat perniagaan, juga dengan klenteng-klenteng tua. Memang anggapan itu tidak salah sama sekali. Namun tahukah jika di wilayah tersebut terselip sebuah gereja dengan nuansa mandarin yang kental?

Gereja bernama Gereja Santa Maria de Fatima atau sering disebut masyarakat sekitar sebagai Gereja Toasebio, terletak di Jalan Kemenangan III. Nama Toasebio rupanya merujuk pada nama jalan pada zaman Belanda.

Keberadaan gereja Toasebio bermula dari pemberian tugas oleh Vikaris Apostoik Jakarta, Mgr. Adrianus Djajasepoetra kepada Pater Wilhelmus Krause Van Eeden, SJ pada tahun 1953, untuk membeli sebidang tanah di daerah Pecinan (sekarang bernama Petak Sembilan atau Toasebio) berserta rumah di atasnya.

Namun sebenarnya rumah berarsitektur Tionghoa yang dibeli dari seorang warga Tionghoa bermarga Tjioe ini dibangun pada awal abad 19. Kemudian, rumah ini diubah menjadi gereja. Komplek gereja terdiri dari lima bangunan. Dulu antara bangunan pertama dan kedua ada ruang terbuka (halaman), kemudian setelah dibeli dan diubah jadi gereja, halamannya ditutup dan dijadikan bagian dalam gereja.

Namun ciri khas arsitektur Tionghoa bubungan atapnya yang melengkung di ujungnya, hingga sepasang patung singa di depan gereja masih dipertahankan hingga kini. Bahkan meskipun telah mengalami beberapa kali renovasi, namun tak menghilangkan keaslian bangunan. Warna cerah (merah, emas, hijau, dan biru) khas arsitektur Tionghoa terlihat mewarnai setiap sisi bangunan gereja.

Saking kentalnya nuansa arsitektur Tionghoa pada gereja Toasebio, hingga altar tempat sembahyang dijadikan altar gereja yang didominasi warna merah khas etnis Tiongkok. Barangkali jika tidak terlalu memahami simbol-simbol gereja dan ada tulisan identitas bangunan, tak banyak yang menyadari bahwa bangunan ini adalah gereja.

Menariknya, tak hanya mempertahankan arsitektur Tionghoa sebagaimana bangunan aslinya karena bangunan ini telah diresmikan sebagai cagar budaya. Tanggal 10 Januari 1972, Gereja Santa Maria de Fatima atau Gereja Toasebio ini juga sering merayakan hari besar etnis Tionghoa seperti imlek. Malah terbilang sejak awal memang memerhatikan kepentingan jemaat yang memang kebanyakan beretnis Tionghoa.

Pada misa pertama tahun 1954 yang menggunakan bahasa Indonesia, jumlah jemaah hanya sekitar 15-20 orang. Tapi pada minggu berikutnya terus bertambah, terlebih setelah diadakannya misa khusus menggunakan bahasa mandarin. Untuk melaksanakan misa tersebut, pihak gereja mendatangkan Pater Joannes Tcheng Chao Min SJ yang saat itu sedang bertugas di Spanyol.

Sejak itu, selalu ada misa dengan bahasa Mandarin di Gereja Santa Maria de Fatima atau Gereja Toasebio hingga kini. Pihak pengelola gereja mengatakan bahwa hal ini merupakan satu upaya agar masyarakat keturunan Tionghoa tetap mengenal bahasa nenek moyangnya.


Foto: Jaka Thariq