Tradisi Panen Ikan di Lubuk Larangan

Sebuah area yang dilindungi hukum adat dan kesepakatan untuk memberi kesempatan ikan-ikan berkembang. Jika tiba waktunya, semua warga berpesta membuka lubuk larangan.

Sungai Subayang membangun peradaban tersendiri yang membelah perbukitan Bukit Rimbang Bukit Baling, Kecamatan Kampar Kiri Hulu, Kabupaten Kampar, Provinsi Riau. Setelah 4 jam berperahu dari Desa Tanjung Belit, saya tiba di Desa Ludai yang terletak di pinggir Sungai Subayang.

Desa tua yang banyak ditinggalkan kaum mudanya namun masih menyimpan catatan yang mengesankan. Budaya dan adat yang masih terawat bagus, dijalankan oleh para penduduk yang masih tinggal di sini. Salah satunya dengan merawat lubuk larangan.

Lubuk larangan merupakan satu kawasan di Sungai Subayang yang tak boleh diambil ikannya pada kurun waktu tertentu. Bisanya ditandai dengan dua tali yang melintang di sungai dengan jarak kira-kira 20m. Penetapan tempat ini biasanya yang dalam dengan air lebih tenang, tempat ikan-ikan bertelur dan menetas. Warga sangat mematuhi aturan ini.

Hingga tiba waktunya, masyarakat bersamaan akan memanen ikan. Saparudin, salah satu penduduk desa di sekitar lubuk larangan menjelaskan biasanya panen dilakukan menjelang bulan Ramadhan waktu para perantau pulang kampung.

“Kami panen bersama-sama. Semua orang menangkap ikan di lubuk,” katanya. Ikan-ikan yang dipanen akan dilelang. Uang hasil lelang digunakan untuk membangun desa. Nah, pelelang biasanya para perantau yang pulang membawa banyak uang. Mereka membeli, kemudian memasaknya di pinggir sungai. Kemudian, ikan itu dinikmati bersama-sama.

“Di sini juga dibangun tenda. Satu tenda satu keluarga. Siapa pun yang berkunjung boleh makan,” ujar Saparudin sambil menunjukkan pinggiran sungai tempat tenda-tenda didirikan.

Pada saat saya berkunjung, saya beruntung menyaksikan lubuk larangan ini dibuka meski bukan menjelang Ramadhan. Sudah melalui rapat dan persetujuan para tetua, akan mengambil sebagian ikan sebab pada saat itu diadakan rapat menjelang pelantikan raja. Pertemuan para tetua dari berbagai desa ke Ludai membutuhkan hidangan. Ikan merupakan lauk pauk yang digemari dan tak perlu membeli. Maka sepakat membuka lubuk larangan pada hari itu.

Para laki-laki mendayung sampan ke bagian tengah sungai. Beberapa menebarkan jaring, beberapa lagi menyelam. Dengan keterampilan yang dimiliki sejak lahir, mereka menangkap ikan dengan tangan kosong. Beragam ikan seukuran telapak tangan berhasil dikumpulkan tak lebih dari sejam. Ketika sudah dirasa cukup untuk menjamu tamu, maka penangkapan ikan dihentikan. Mereka memang hanya mengambil secukupnya, memberikan kesempatan ikan-ikan untuk kembali berbiak.


Foto: Titik Kartitiani