Bertenun Menjaga Warisan Nenek Moyang Wakatobi

Masyarakat Wakatobi sangat pandai menjaga warisan budaya, salah satunya adalah dengan mempertahankan tradisi menenun. Namun, menenunnya tidak boleh ada paksaan, harus berasal dari niat dalam diri kita sendiri.

Mendengar Wakatobi, pasti yang langsung terlintas di benak kita dunia bawah laut yang indah. Padahal, Wakatobi juga terkenal dengan budaya tenun ikatnya yang menjadi warisan nenek moyang mereka, loh.

Pajam, merupakan desa tertua yang berada di Pulau Kaledupa, Wakatobi. Pulau Kaledupa dapat ditempuh selama 2 jam menggunakan speedboat dari Wangi-wangi. Desa ini masih terus melestarikan tenun sebagai mata pencaharian masyarakat. Bahkan, hingga sekarang pun anak-anak Desa Pajam masih terus melakukan tradisi ini.

Mereka sudah mulai bisa menenun sejak kelas 3 SD. Meski begitu, orang tua mereka tidak memaksa apabila anak-anak mereka tidak mau menenun. Sebab, menurut mereka menenun merupakan kegiatan yang harus berasal dari kehendak sendiri, agar hasil perpaduan warna yang dihasilkan terlihat rapi dan cantik.

Desa Pajam memang sudah berdiri sejak kerajaan Kaledupa, kurang lebih ratusan tahun lalu. Sejak saat itu, tradisi tenun ini terus berjalan hingga sekarang. Jika kita hendak berkunjung ke desa ini, para penduduk juga bisa mengajari kita menenun secara gratis. Biasanya para ibu-ibu yang mengajarkan cara nenun.


Tiga Tahapan dalam Menenun
Proses tenun sendiri terdiri dari 3 tahap. Pertama disebut sebagai Purunga. Tahap ini adalah proses penggulungan benang. Sebelum digulung, biasanya benang diikat dengan plastik untuk diberi warna. Pewarnanya berasal dari bahan-bahan alami. Dari tahap Purunga akan menghasilkan benang yang di sebut Guara dan Puru.

Kemudian tahap kedua adalah Oluri. Ini adalah proses penggulan benang di atas papan. Benang yang digunakan adalah Puru. Barulah kemudian proses terakhir dilakukan dengan cara di tenun. Di sini benang akan ditarik menjadi kain dan benang yang digunakan adalah Guara.

Untuk membuat sebuah kain utuh, biasanya proses menenun membutuhkan waktu paling cepat satu minggu. Sementara bagi yang hendak belajar menenun, masyarakat Wakatobi mengaku hanya butuh satu hari untuk belajar. Asalkan dilandasi niat dan kehendak dari diri sendiri tanpa ada paksaan.