Otentiknya Suku Sasak di Desa Sade

Selain mengeksplorasi keindahan alamnya, Sobat Pesona juga dapat berkunjung ke desa wisata suku Sasak yang ada di Lombok.

Lombok, Nusa Tenggara Barat ramai dikunjungi wisatawan karena memiliki lanskap dan bentang alam yang menawan. Tapi, jika ingin mengenal lebih dekat penduduk asli pulau Lombok, suku Sasak, luangkan waktu untuk berkunjung ke desa wisata di sana.

Desa yang dimaksud adalah Desa Sukarara dan Desa Sade. Di dua desa ini warga menjaga kelestarian budayanya. Tak perlu berlama-lama, mari kita simak profil kedua desa tersebut di bawah ini!


Desa Sukarara
Desa Sukarara dikenal sebagai desa kerajinan tenun. Desa ini berlokasi di Kecamatan Jonggat, Kabupaten Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat. Salah satu pusat kerajinan tenun di desa ini yaitu Sentral Tenun Dharma Satya Sukarara yang berada di Jl Tenun Tradisional, Lombok Tengah.

Tempat ini menyediakan beraneka macam jenis dan produk tenun khas desa setempat. Sebagian besar produk tenun tersebut adalah hasil kerajinan tangan warga setempat yang dititip kemudian dijual di Sentral Tenun Dharma Satya Sukarara.

Beberapa produk kerajinan tenun tersebut antara lain lain tenun songket aneka motif, sarung, lukisan, dan produk kerajinan khas lainnya. Di lokasi ini juga dapat dijumpai aktivitas menenun menggunakan alat tenun tradisional, bahkan wisatawan dibolehkan mencoba menenun di tempat tersebut.


Desa Sade
Desa Sade adalah nama salah satu dusun di Desa Rambitan, Kecamatan Pujut, di Kabupaten Lombok Tengah, NTB. Lokasinya cukup dekat dari Bandara Internasional Lombok (BIL) yaitu sekitar 11 kilometer dan dapat dicapai dalam waktu 15-20 menit berkendara.

Desa adat dan wisata ini didiami sekitar 150 Kepala Keluarga (KK) yang sebagian besar masih memiliki hubungan keluarga. Seperti di Desa Sukarara, di Desa Sade bukan hanya menyajikan wisata budaya namun juga wisata belanja karena terdapat aneka produk kerajinan tenun dan aksesori lainnya yang dijajakan warga di rumah-rumah warga setempat.

Semua rumah atau bangunan di desa seluas 5,5 hektare ini memiliki ciri khas yang sama sebagai perkampungan warga asli suku Sasak yaitu dinding dan tiang terbuat dari bambu serta atap dari alang-alang kering.

Di desa ini, wisatawan juga bisa menyaksikan atraksi duel pepadu (petarung) warga Suku Sasak melakukan  “Paresean” atau pertarungan yang bersenjatakan tongkat rotan (penjalin) dan perisai dari bahan kulit kerbau (ende) dengan iringan musik tradisional.

Selain melihat pantainya yang menawan, tak rugi juga jika Sobat Pesona berkunjung ke desa wisata suku Sasak kan?


Foto: Prawin