Mengenal Tenun Tradisional Desa Sadi

Motif yang lebih sering ditemukan adalah motif duri daun gepang dan dikur. Motif dikur, atau motif kepala kerbau, dulu hanya bisa digunakan oleh para bangsawan, atau tetua adat. Semakin banyak motif dikur yang dipakai berarti makin tinggi kedudukannya.

Jari-jari tua Mama Kristina masih bisa bergerak lincah memilah-milah benang saat meracik motif duri daun gewang  untuk tenun yang dikerjakannya. Memang sudah tak secepat dulu, sewaktu muda selembar kain sarung selesai dalam tiga hari, sekarang di usia tujuh puluh tiga, butuh tujuh hari untuk merampungkannya.

Hampir semua perempuan di Desa Sadi, pemukiman suku Berebu dari etnis Kemak, bisa membuat kain tenun sendiri. Alat tenun tradisional yang digunakan di Desa Sadi, Atambua, Kabupaten Belu, cukup sederhana.  Terdiri dari "kanuru", papan pipih yang digunakan untuk menekan benang supaya rapat. Ada ailulu, kainan, ulo, kakapalu, baisua untuk memasukkan benang, dan aidama untuk menarik susunan benang supaya kencang. Bahkan, saat tidak dipakai, alat tenun dan kain yang belum jadi dapat dilipat supaya ringkas.


Kembangkan Tenun Warna Alam
Kebanyakan tenun yang dibuat di Sadi sudah menggunakan benang dan warna jadi dari toko. Mama Celesta, koordinator kelompok penenun di Desa Sadi sekarang ini sedang mengembangkan tenun tradisional dengan teknik pewarnaan alami. Menurutnya Mama Celesta, "Di Sadi banyak tumbuh-tumbuhan yang bisa dipakai untuk bahan pewarna alam. Seperti kulit pohon kuning, kulit kayu ibu kapi, dan daun gala-gala yang ditempat lain dikenal dengan sebutan pohon bunga turi."

Selain, mengembangkan teknik pewarnaan alami, kelompok penenun dari Desa Sadi juga sedang memperkaya corak dan motif tenunnya. Ada motif romiki yang diyakini motif tenun khas etnis Kemak. Kain tenun dengan motif ini biasa dipakai untuk balasan belis, atau mas kawin, yang dibawa oleh pengantin perempuan untuk dipakai oleh laki-laki dari pihak mempelai prianya. Tapi, belum ada yang bisa menjelaskan apa arti atau maksud dari motif tersebut.

Motif yang lebih sering ditemukan adalah motif duri daun gepang dan dikur. Motif dikur, atau motif kepala kerbau, dulu hanya bisa digunakan oleh para bangsawan, atau tetua adat. Semakin banyak motif dikur yang dipakai berarti makin tinggi kedudukannya. Namun, sekarang ini  awam pun bisa memakainya. Yuk ke Desa Sadi, tenun tradisional dari Timor ini pasti jadi oleh-oleh dan cinderamata yang istimewa.


Foto: Sri Sadono