Merdunya Petikan Sasando di Desa Oebelo

Dengan sebelas senar, yang pilihan nadanya terbatas, Sasando dulu biasa dipakai sebagai pengiring syair atau sajak saja. Sasando yang sekarang, varian duapuluh empat atau tigapuluh dua senar, dapat dipakai untuk membawakan hampir semua jenis irama lagu.

Petikan jari Ivan Pah, anak kelima dari Yeremias Pah, maestro alat musik Sasando yang wafat pada Januari lalu, menyambut kedatangan Pesona Travel di sanggar tempat pembuatan Sasando yang ada di Desa Oebelo, Kupang. Jari-jarinya lincah memainkan irama merdu Bolelebo  lagu tradisional Timor, yang dalam bahasa Indonesia berarti "Baik tidak baik, tanah Timor lebih baik".

Sebagai penerus, pelestari, musik Sasando, Ivan Pah yang sekarang berusia tigapuluh tahun akhirnya menyadari bahwa warisan budaya Timor, khususnya musik Sasando, yang dipelajarinya sejak kelas empat Sekolah Dasar telah banyak membawa kebaikan dalam perjalanan hidupnya.

Lewat musik yang berasal dari Pulau Rote inilah dirinya dan kakak-kakaknya bisa memanggungkan merdunya suara musik tradisional nusantara ini ke sejumlah negara. Sesuatu yang dulu tidak dia pikirkan sama sekali waktu ayahnya, Yeremias Pah, mengajarkan keahlian tersebut kepadanya.

Sasando, alat musik petik dua oktaf yang dulunya hanya terdiri dari sebelas senar, kini sudah lebih berkembang. Dengan sebelas senar, yang pilihan nadanya terbatas, Sasando dulu biasa dipakai sebagai pengiring syair atau sajak saja. Sasando yang sekarang, varian duapuluh empat atau tigapuluh dua senar, dapat dipakai untuk membawakan hampir semua jenis irama lagu.

Paduan petikan senar dengan resonansi dari daun lontar yang dikeringkan membuat melodi merdu Sasando menjadi sangat khas. Pesona Travel pun dibuai oleh  permainan solo dari Ivan Pah. Kalau Sobat Pesona ingin mendapatkan pengalaman yang sama, tinggal datang langsung ke Desa Oebelo, di sanggar Sasando milik keluarga Pah.


Foto: Sri Sadono