Atraksi Musik Bambu Timor, Alunan Ritmis Terompet Timor

Musik bambu masuk ke Atambua tigapuluh enam tahun yang lalu. Dibawa oleh Fernandes dari Lembata yang sempat belajar di Sekolah Pendidikan Guru di Poso, Sulawesi. Awal masuknya dari Larantuka, kota di ujung timur pulau Flores.

Festival Padang Fulan Fehan lebih dikenal sebagai Festival Likurai. Tarian massal Likurai memang menjadi atraksi utamanya. Tapi, bukan tari saja yang tampil. Ada juga musik bambu yang akan menjadi bagian dari festival tahunan di Bukit Fulan Fehan, Timor tersebut.

Musik bambu di Sadi mirip dengan musik bambu dari daerah Sulawesi Tengah. Menurut Yosef Oki, pengajar musik bambu di SMPN Sadi, "Musik bambu masuk ke Atambua tigapuluh enam tahun yang lalu. Dibawa oleh Pak Fernandes dari Lembata yang sempat belajar di Sekolah Pendidikan Guru di Poso, Sulawesi. Awal masuknya dari Larantuka."

Bagi Yosef Oki, tamatan sarjana musik dsri Unwira Kupang, tantangan dari musik bambu yang dikenalnya saat pengerjaan tugas akhir kuliahnya tersebut adalah mengubahnya dari jenis musik ritmis menjadi musik melodis. Karena keterbatasan nada dari terompet tiupnya, untuk satu irama lagu, dibawakan dengan cara baku sambut berdasar nadanya.

Berdasarkan nada dasarnya, ada terompet mirefa, terompet dosi, terompet sol dan la, terompet bas dosi rendah, terompet dosalfa rendah, terompet mirefa rendah, terompet sola rendah, dan terompet dosi rendah.

Ukuran terompet berpengaruh pada nada yang dihasilkan. Ada yang ukurannya kecil, bisa dimainkan satu orang saja. Ada yang ukurannya besar sampai harus dimainkan berdua, satu mengangkat terompet, satunya lagi sebagai peniupnya. Luar biasa kan?


Foto: Sri Sadono