Mencicip Indahnya Pemandangan dan Manisnya Tuak Tuamese

Tuak, air nira yang diambil dari bakal bunga pohon lontar menjadi urat nadi ekonomi Kampung Tuamese. Dari atas Bukit Tuamese, Sobat Pesona dapat melihat hamparan tambak garam di balik bukit dan hamparan pohon lontar di sisi pantainya.

Kalau Sobat Pesona berburu info soal destinasi wisata di Kabupaten Belu atau Atambua, Bukit atau Pantai Tuamese selalu masuk dalam daftar pencarian. Padahal, secara administratif pantai yang berjarak 45 km dari kota Atambua ini masuk kawasan Kabupaten Timor Tengah Utara. Setelah menyusuri Jalan Raya Atambua Sakato yang mulus, untuk mencapai tempat ini harus lebih dulu memasuki jalanan berbatu sepanjang enam kilometer. Kalau tidak biasa, arah menuju Pantai Tuamese sangat mungkin terlewatkan.

Saat kemarau, jalan berbatu, berdebu, pemandangan persawahan yang mengering menemani perjalanan ke Bukit Tuamese. Rumah warganya kebanyakan dari kayu beratap daun lontar beralas tanah. Hanya ada satu-dua saja rumah yang lebih permanen bertempok bati semen.

Bukit Tuamese dengan kayu putih yang meranggas tampak gagah dari kejauhan. Menggambarkan keteguhan dan ketangguhan penduduk Tuamese menghadapi kerasnya alam Timor. Kampung Tuamese, tempat di mana Bukit dan pantai Tuamese adalah kampung yang di huni oleh warga keturunan dari Pulau Sabu.


Manisnya Pohon Lontar di Tengah Tanah Gersang
Dengan naik ke atas Bukit Tuamese, Sobat Pesona dapat melihat hamparan tambak garam di balik Bukit dan hamparan pohon lontar di sisi pantainya. Fani, Yestian, dua anak Kampung Tuamese yang Pesona Travel temui, menemani perjalanan ke atas Bukit Tuamese. Jarak menuju puncak dengan jalan desa sekitar seratus meter saja.

Menurut Kohe, warga Tuamese yang ditemui oleh Pesona Travel, "Tuak, semacam air nira yang diambil dari bakal bunga pohon lontar menjadi urat nadi ekonomi Kampung Tuamese."

Kohe dan adiknya, Kore adalah pemetik air tuak dari pohon lontar tersebut. Setiap hari mereka memanen tuak dari 30 pohon yang tumbuh di lahan warisan keluarga. Setiap harinya, mereka bisa memanen sekitar empatpuluh liter tuak yang bisa diolah menjadi menjadi tujuh kilogram gula merah.

Selain untuk dijadikan gula merah, dari sebagian pohon lontar yang tersebut diambil tuaknya untuk menjadi minuman atau makanan pokok. Bagi masyarakat Sabu, menurut Pak Kohe, mereka punya kebiasaan mengganti makanan pagi dan malam dengan minum tuak segar. Dalam sehari, makan berat hanya sekali saat makan Siang.


Foto: Sri Sadono