Melihat Museum Perang Dunia di Tarakan

Bagaimana Tarakan diperebutkan oleh sekutu dan Jepang dalam Perang Dunia II di Pasifik bisa kita lihat sejarahnya di sini.

Seperti yang dijabarkan dalam referensi sejarah, Tarakan termasuk daerah perintis pengeboran minyak bumi yang dilakukan Belanda sejak awal 1900-an. Karena kualitas minyak yang bagus ini pula Tarakan menjadi target daerah yang harus dikuasai negara-negara yang berperang pada Perang Pasifik.

Untuk mengetahui sejarah perang di kota ini, kita bisa mendatangi museum sejarah perang dunia yang terletak di komplek Tarakan Islamic Center, di Kampung Empat. Berada di samping kanan Masjid Agung Baitul Izzah, museum yang berwarna putih ini terbagi atas dua bangunan utama yang sama persis sehingga kerap disebut dengan Museum Kembar. Museum sejarah ini terbagi dalam dua, yang pertama adalah Museum Sejarah Perang, dan yang kedua adalah Museum Sejarah Perminyakan.

Sebenarnya koleksi di Museum Sejarah Perang ini dulunya ditempatkan di Museum Rumah Bundar yang berlokasi di pusat kota. Kemudian akhirnya setelah bangunan museum ini jadi, koleksi tersebut dipindahkan ke sini. Saat masuk ke area halaman museum, di sebelah kanan dekat gerbang masuk pagar ada tiga mobil kuno terparkir di sebuah area berpeneduh dan berpagar. Kita bisa berfoto atau ber-selfie di sana. Mobil-mobil kuno tersebut pada jamannya difungsikan sebagai angkutan umum di Tarakan. Yuk, kita wisata sejarah di Tarakan.


Melihat Dokumentasi Perang Dahsyat
Setelah membayar retribusi sebesar 5.000 rupiah kepada petugas jaga, kita bisa memasuki museum ini. Di sini kita bisa melihat sejumlah peninggalan Perang Dunia  II yang berlangsung di kawasan Tarakan. Pada era itu, Tarakan yang memiliki kualitas minyak bagus menjadi target operasi yang harus dikuasai. Dan Jepang berhasil merebutnya dari Belanda pada 1942.

Benda-benda bersejarah dipamerkan secara tertata di seluruh sudut museum. Dua sepeda tua berjajar di tengah ruangan museum. Barang-barang yang dipamerkan merupakan barang-barang sisa perang berupa beragam jenis senjata, samurai, hingga pakaian perang milik tentara. Serpihan baling-baling pesawat tempur juga ada dipamerkan. Keramik-keramik lantai, piring-piring, prasasti dan uang-uang jaman dulu tak ketinggalan dipajang di etalase kaca.

Di sini kita juga bisa melihat sejumlah maket situs pertahanan Belanda dan Jepang di Juata Laut dan Peningki Lama. Di dinding museum, kita bisa melihat beragam foto dokumentasi yang diabadikan semasa pendudukan Belanda dan Jepang. Beberapa foto juga dipajang dalam album foto yang diletakkan dekat pintu masuk.

Benda-benda bersejarah dari perang dunia ini sebenarnya baru sedikit saja dari peninggalan-yang ada di Tarakan. Karena di sebagian tempat di Tarakan, kita bisa melihat situs perang secara langsung, seperti di Bukit Peningki Lama dan Juata Laut yang terdiri dari bunker-bunker dan meriam-meriam. Ada juga tugu Australia (yang juga sempat berperang di Tarakan karena bersekutu dengan Belanda), tugu Jepang, hingga terowongan di beberapa tempat.


Melihat Sejarah Perminyakan Tarakan
Di samping bangunan museum perang ada Museum Sejarah Perminyakan. Barang-barang yang dipamerkan di dalam museum sejarah perminyakan ini adalah alat-alat yang digunakan untuk pengeboran minyak di Tarakan. Ada juga detektor gas, alat-alat laboratorium, berbagai jenis mata bor (bit), production packer (salah satu alat pengeboran di bawah permukaan), alat penampung minyak, pakaian pekerja, alat-alat kantor, hingga alat pemadam api.

Foto-foto dokumentasi lama mengenai kegiatan industri perminyakan dari masa-masa awal eksplorasi juga dipamerkan di sini. Tak ketinggalan miniatur pompa minyak (sucker rod pump) dan maket gambaran industri minyak dari hulu sampai hilir terpajang juga. Barang-barang yang dipamerkan di museum ini merupakan hibah dari perusahaan minyak yang beroperasi di Tarakan, Pertamina dan Medco yang bekerjasama dengan pemerintah Kota Tarakan.


Foto: Yul Kusuma