Kepiting Warna-Warni dan Bekantan di Hutan Bakau Tarakan

Tidak lengkap rasanya jika ke Tarakan tanpa mampir Hutan Mangrove Tarakan. Kita bisa bersantai di bawah pohon bakau, menonton bekantan bergelayutan, hingga melihat kepiting pelangi.

Dari beberapa tempat wisata yang ada di Tarakan, Kalimantan Utara, ada satu tujuan yang wajib kita sambangi saat berada di sana. Namanya, Hutan Mangrove Tarakan. Kawasan Konservasi Mangrove dan Bekantan (KKMB) ini terletak di jantung kota, sehingga mudah untuk dicapai.

Konon, dulunya Kota Tarakan dikelilingi hutan mangrove yang lebat. Namun dalam perkembangnnya, hutan bakau itu banyak menghilang dan digantikan kawasan pemukiman. Sekarang hutan mangrove disulap menjadi obyek wisata. Kini hutan bakau ini menjadi obyek wisata yang juga berperan sebagai paru-paru kota sekaligus menjadi benteng yang melindungi kota dari abrasi air laut.


Melihat Bekantan & Kepiting Warna-warni
Berkunjung ke Hutan Mangrove Tarakan ini, kita dapat menyaksikan hewan khas Tarakan. Apalagi kalau bukan Bekantan. Satwa langka endemik khas Kalimantan yang sangat dilindungi itu memiliki bentuk yang khas, yaitu hidungnya yang panjang, sehingga dijuluki sebagai “Monyet Belanda”.

Bekantan merupakan monyet yang cenderung hidup bebas, senang bergelantungan di pohon dan sangat lincah berayunan dari satu pohon ke pohon yang lainnya. Tingkah mereka menjadi tontonan pengunjung hutan mangrove ini. Kalau mau melihat aktivitas mereka yang lebih aktif, datanglah pagi hari. Ketika pagi hari saat mereka makan pisang, di situlah tingkah lucu mereka bisa kita amati. Bergelantungan hingga meloncat dari satu pohon ke pohon lain adalah adegan yang menarik dilihat.

“Nggak cuma Bekantan, kita bisa lihat hewan unik lainnya di sini, Bang,” ujar pemandu hutan mangrove, Ricky. “Kita bisa lihat kepiting pelangi. Kulitnya warna-warni,” tambahnya. Rasa penasaran membuat kami mengikuti langkah pemandu. Dari pintu masuk KKMB, berbelok ke kiri, lalu berbelok kanan hingga menemui sebuah jembatan. Sambil menunjuk ke bawah jembatan, menunjuk dasar sungai tanpa air itu.

Dan, siap-siap terkejut, Sobat Pesona! Sejumlah kepiting kecil berjalan pelan di antara lumpur. Kepiting-kepiting kecil itu berbeda warna. Ada yang biru muda, oranye, dan ada pula yang merah. Kepiting-kepiting itu berkelompok berdasarkan warna. Warna-warni kepiting itu yang membuat pengunjung taman bakau betah berlama-lama melihat ke bawah jembatan. Hanya saja tidak ada yang berniat mengambilnya karena di sekitar kepiting terkadang ada satwa lain seperti biawak dan ular.


Ke Tarakan Saat Desember
Untuk menuju ke Kawasan Konservasi Mangrove dan Bekantan, dari kompleks THM Simpang Tiga (pusat keramaian Kota Tarakan) kita bisa menggunakan kendaraan umum seperti angkot, hanya memakan waktu sekitar 5 menit. Jika ingin bersantai sambil menikmati suasana Kota Tarakan, bisa juga berjalan kaki untuk mencapai taman wisata yang terletak persis bersebelahan dengan Pasar Gusher, yang merupakan salah satu pusat perekonomian Kota Tarakan.

Jika ingin ke Tarakan, bisa jadi bulan Desember jadi waktu yang tepat. Soalnya, selain bisa berkunjung ke KKMB, kita juga bisa melihat perhelatan Iraw Tengkayu. Ini adalah upacara tradisional yang diadakan oleh masyarakat suku Tidung di Tarakan, Kalimantan Utara. Festival ini berupa upacara ritual menghanyutkan sesaji ke laut.

Larung laut ini biasanya dilakukan di Pantai Amal dan diadakan dengan beragam festival dan pertunjukan kesenian. Festival ini biasanya dilaksanakan setiap dua tahun sekali dan bertepatan dengan hari jadi Kota Tarakan. Di tahun ini, kemeriahan Iraw Tengkayu akan digelar dari 1 sampai 31 Desember 2019.


Foto: Yul Kusuma