Cerita di Balik Megahnya Museum Tsunami Aceh

Museum Tsunami dibangun untuk kembali mengingat bencana alam yang merengut ratusan ribu jiwa. Tapi, selain itu ada fakta menarik seputar galon ini.

Desember 2004, bakal diingat oleh warga Aceh sebagai hari kelabu. Hari itu bumi Serambi Mekah diguncang gempa berkekuatan 8,9 SR, disusun tsunami tak lama kemudian. Sejumlah daerah di Nangroe Aceh Darussalam luluh lantak, ratusan ribu nyawa melayang.

Untuk mengingat bencana ini, dbangunlah museum yang kini dikenal sebagai Museum Tsunami Aceh. Kini museum ini menjadi salah satu tempat yang dituju wisatawan yang berkunjung ke sana. Berikut fakta-fakta di belakang Museum Tsunami Aceh


Mempunyai Dua Makna
Bila diperhatikan dari atas, museum ini merefleksikan gelombang tsunami. Tapi, bila dilihat dari samping atau bawah, bangunan ini tampak seperti kapal penyelamat dengan geladak yang luas sebagai escape building.


Didesain Ridwan Kamil
Museum ini dibangun oleh Badan Rehabilitasi dan Rekonstruksi (BRR) NAD-NIAS. Desain dibuat Ridwan Kamil, seorang arsitek yang juga dosen di Jurusan Teknik Arsitektur Institut Teknologi Bandung. Ia memenangkan sayembara yang diikuti ratusan peserta. Ia berhak atas dana Rp100 juta atas desainnya. Museum ini sendiri menghabiskan Rp140 miliar untuk pembangunannya.

Ridwan Kamil yang kini menjabat Gubernur Jawa Barat ini memenangkan 'Sayembara Merancang Museum Tsunami Aceh' yang diselenggarakan oleh Badan Rehabilitasi dan Rekonstruksi Aceh-Nias pada 17 Agustus 2007. Museum Tsunami Aceh terbuka untuk umum pada 8 Mei 2009.


Punya Ruang Tematik
Tidak hanya berfungsi sebagai monumen peringatan tsunami, pengunjung yang datang juga seolah dapat merasakan kejadian tsunami Aceh tahun 2004 silam. Di dalamnya terdapat lima ruang tematik yang punya pesan masing-masing.


Terpampang Nama Korban
Tsunami Aceh 2004 memakan korban jiwa hingga ratusan ribu, menyisakan nama korban dan keluarga yang ditinggalkan. Ada satu ruangan bernama Space of Sorrow atau Sumur Doa, di mana pengunjung dapat melihat nama para korban Tsunami Aceh 2004. Berbagai nama korban tertera menempel di dinding ruangan Space of Sorrow.


Dapat Berfungsi Sebagai Tempat Perlindungan dari Tsunami
Desain Museum Tsunami Aceh disebut 'Rumoh Aceh Escape Hill'. Hebatnya, museum tersebut tidak hanya berfungsi sebagai monumen peringatan, tapi juga sebagai tempat perlindungan dari bencana tsunami.

Berkaca dari tragedi Tsunami Aceh 2004, Ridwan Kamil membuat taman berbentuk bukit yang dapat dijadikan lokasi penyelamatan apabila bencana tersebut terjadi lagi di masa mendatang. Atapnya yang landai dimaksudkan untuk menampung penduduk.

Terlihat jelas bahwa Museum Tsunami Aceh bukan hanya berfungsi sebagai suatu hal. Nyatanya, banyak fakta yang mungkin belum Sobat Pesona ketahui sebelumnya.


Foto: Sandy Mahendra