Aset Penting Banda neira di Rumah Budaya

Awal tahun 1512. Portugis adalah bangsa Eropa pertama yang menyinggahi Banda untuk membeli rempah-rempah.

Datang bersama mualim Melayu yang berlayar menyusuri Jawa, Sunda Kecil (NTB dan NTT sekarang) dan melanjutkan pelayaran ke Maluku. Namun bangsa Portugis lebih tertarik pada cengkeh yang banyak ada di daerah Ternate daripada pala dan fuli di Maluku. Hingga akhirnya Belanda berhasil masuk ke wilayah Banda dan menguasai perdagangan rempah di bawah bendera VOC.

Kenangan dan cerita sejarah ini bisa kita saksikan langsung di Bandaneira. Sebuah rumah bergaya kolonial dengan pilar dan dinding kayu tak jauh dari penginapan Delfika, menjadi sebuah museum kisah perjalanan bandaneira dari waktu ke waktu. Pastinya wajib untuk dikunjungi, karena dari rumah ini kita bisa mendapatkan banyak informasi tentang sejarah Bandaneira.

Benda-benda sejarah serta cerita-cerita singkat perjuangan rakyat Banda melawan penjajah saat itu. Mulai buka siang hari apabila hari biasa, namun apabila belum buka bisa menghubungi pihak penginapan tempat kita bermalam untuk masuk ke rumah budaya. Di bagian sayap kiri ada seperangkat meja tamu dilengkapi gramofon yang masih aktif. Pemandu sempat pula memutar piringan hitam yang terlihat masih terawat baik, alunan musik klasik zaman dahulu mengalun samar mengiringi penjelajahan kami di ruang demi ruang rumah budaya ini.

Tertata dengan apik sebuah masker menyelam, alat memasak, meriam, lonceng gereja, lonceng benteng, senapan, jam tua, topi perang, semua membawa kita ke masa lalu. Mungkin benda-benda ini tak terbayangkan oleh kaum milenial saat ini.

Satu hal yang paling menarik adalah sebuah lukisan yang tergantung di ruang tengah, lukisan dengan algojo dan samurai yang tampak berdarah-darah, seketika memacu adrenalin saya untuk membaca penjelasan lukisan tersebut.  Sebuah peristiwa penting bagi masyarakat Banda yang terjadi tahun 1621 di dalam Benteng Nassau, yaitu pembunuhan 44 orang kaya Banda yang dilakukan atas perintah Gubernur Jenderal Belanda Jan Pieterzoon Coen yang berkuasa saat itu.

Pembunuhan dilakukan tepat di depan anak istri beserta keluarganya secara sadis oleh 6 orang algojo samurai yang didatangkan langsung dari Jepang (samurainya masih bisa kita lihat di Rumah Budaya). Setelah mati, mayat 44 orang kaya ini diceburkan ke dalam sumur tua tidak jauh dari Benteng Nassau. Saat ini, sumur tersebut juga masih terawat baik dan dikenal sebagai Perigi Rante (Sumur Berantai). Serta tak jauh dari sumur, dibangun monumen yang berisi nama-nama 44 orang yang dibunuh.

Motif pembunuhan ini adalah agar Belanda mampu memonopoli perniagaan rempah-rempah diseluruh Kepulauan Banda, dan menakut-nakuti masyarakatnya agar tunduk kepada pemerintahan Belanda.  Datanglah ke Bandaneira, imaji dan nuansa kolonial akan membawamu jauh ke masa lampau.


Foto: Raiyani Muharramah