Kuliner Palembang Masa Kecil

Ketiga kuliner yang akan saya ceritakan ini bisa dibilang sudah mulai langka atau banyak yang tidak diketahui oleh banyak orang. Bahkan di Palembang sendiri, Gulo Puan terdengar asing bagi telinga beberapa warganya. Bertanya ke sana ke mari akhirnya saya menemukannya.

Ketiga kuliner yang akan saya ceritakan ini bisa dibilang sudah mulai langka atau banyak yang tidak diketahui oleh banyak orang. Bahkan di Palembang sendiri, Gulo Puan terdengar asing bagi telinga beberapa warganya. Ragit dan Gulo Puan saya ketahui dari teman seperjalanan, dia menceritakan sebuah makanan yang dikenang saat masa kecilnya. Bertanya ke sana ke mari akhirnya saya menemukannya.

1. Pindang Ikan dan Brengkes Tempoyak Patin
Pindang yang satu ini termasuk dalam kategori makanan langka. Ada begitu banyak rumah makan yang menawarkan makanan khas Palembang, salah satunya pindang, tetapi tak banyak yang memiliki menu Pindang Gelayan ini.Di Palembang, restoran yang menjual sajian berkuah asam-manis yang segar ini adalah Warung Yuk Kris.

Keunikan pindang ini terletak pada bahan yang digunakan. Bila pada umumnya pindang di Sumatra Selatan menggunakan nanas atau cung kediro untuk menebalkan rasa asam, berbeda dengan pindang Gelayan yang justru memasukkan sayur gambas untuk memunculkan kesegarannya.  Kuah pindang, bila dibandinngkan pindang lainnya memang tampak lebih bening. Para pelayan di Warung Yuk Kris menyarankan untuk memesan pindang Gelayan gabus, meskipun umumnya patin.

Diakui oleh beberapa warga Palembang bahwa meskipun terlihat sederhana, ternyata mengolah pepes atau brengkes tempoyak dengan lauk lain tidak mudah. Pepes ikan yang sudah dilumuri bumbu tempoyak biasanya dibungkus dengan daun pisang lalu dikukus hingga matang selama 60 menit. Setelah itu baru pepes dibakar di atas bara api hingga daun pisangnya mengering. Para juru masak percaya bahwa memasak yang cara yang lambat dan berlapis akan membuat semua bumbu menyatu dan meresap hingga ke bagian terdalam ikan.

2. Gulo Puan
Seorang teman bercerita tentang sebuah cemilan manis masa kecilnya, gulo puan. Penganan ini hanya dapat dinikmati oleh bangsawan atau keluarga kaya raya. Pasalnya bahan dasar untuk pembuatan cemilan ini bisa dibilang sangat spesifik dan sulit untuk dicari.

Nama gulo puan sendiri diberikan sesuai dengan dua bahan baku utama yang digunakan, yaitu gula (gulo) dan susu (puan). Jika dulu gulo puan hanya untuk kaum tertentu, kini penganan tersebut sulit untuk ditemukan karena pada bahannya ada unsur susu kerbau, spesifik lagi hanya susu kerbau rawa.

Saat ini tersisa satu desa yang menjadi sentra pembuatan gulo puan. Terletak 100 km dari Palembang, Desa Pulo Layang. Kalau tak ingin pergi jauh, cobalah peruntungan untuk mencicipi kuliner langka ini dengan menemukan penjualnya pada setiap Jumat di depan Masjid Agung Palembang.

3. Ragit
Tidak banyak yang mengetahui bahwa ragit sendiri sebenarnya terdiri dari dua jenis, yaitu yang berbentuk rajut atau jala dan ragit gulung. Ragit disantap bersama kuah kari yang ditaburi irisan cabai rawit hijau dan bawang goreng. Kuah kari untuk ragit mengingatkan kepada kuah kari yang biasa disiramkan ke martabak tambi. Kuah kari yang disiramkan ke martabak dan ragit biasanya lebih kental karena berisi irisan kentang dan daging.

Warga Palembang biasanya menyantap saat pagi hari sebagai sarapan. Menariknya, selama bulan Ramadan, entah mengapa lebih mudah menemukan ragit, terutama di Pasar Bedug, karena sering dijadikan sebagai makanan berbuka puasa.