Napak Tilas Rumah Pengasingan Bung Hatta di Banda Neira

Bangunan peninggalan Govenoor Belanda bergaya klasik yang berada di Banda Neira, dibangun pada tahun 1622. Pada masa kolonial, tempat inilah yang digunakan sebagai rumah Gubernur Jenderal Belanda Jan Pieterszoon Coen, sekaligus sebagai tempat perdagangan rempah-rempah.

Pada bagian depan, terdapat delapan pilar yang memperkokoh tampilan bangunan yang secara arsitektural bentuknya menyerupai Istana Merdeka di Jakarta. Halaman rumput hijau tampak rapi menghiasi halaman yang luas. Dua buah meriam teronggok di kanan kirinya. 

Suasana di sekitaran bangunan bersejarah itu terasa sejuk, padahal letaknya berada di area pantai. Jika Sobat Pesona beristirahat di sana, suara gemuruh angin sesekali melintas di telinga. Sobat Pesona dapat menikmati suasana selat Zonnegat yang membelah Pulau Banda Besar dan Pulau Naira, menjadikan bangunan ini sebagai lokasi strategis untuk keberadaan perkantoran perdagangan.

Mulai melangkah ke area teras. Teras inipun tampak kosong, ubin abu-abu rapi bersih mengkilap, bangunan ini tampak terawat terjaga dengan baik. Mulai melangkah masuk ke area dalam ruangan, kosong dan terasa dingin. Sobat Pesona akan merasakan sensasi Banda Neira masa lampau.

Lingkungannya pun sangat mendukung para pelancong yang singgah untuk membayangkan suasana zaman kolonial dahulu, melihat aktivitas perkantoran milik Belanda yang mengatur segala perdagangan pelayaran perizinan dalam hal menjual rempah-rempah milik rakyat.

Jika kita menelusuri sejarah, desain Rumah Governoor Belanda di Banda Neira ini, merupakan contoh untuk pembangunan istana merdeka di Jakarta. Karena lebih dahulu dibangun di Banda Neira tahun 1622.

Salah seorang Proklamator, Bung Hatta dan tokoh perjuangan Bung Sjahril, pernah tinggal di bangunan bersejarah ini saat diasingkan oleh pemerintah Belanda. Bangunan dengan halaman yang luas, tiang bendera di depannya dan meriam di kanan kirinya.

Apabila melihat sisi dalamnya, langit-langit dengan ornamen kayu, jendela dan pintu dari kayu serta lantai masih terawat dengan baik, walau terlihat kosong karena tak satupun benda ada di dalamnya.

Dinding dengan ornamen pilar-pilar yang kokoh, Sobat Pesona bisa juga menyaksikan pada salah satu dindingnya, ada sebuah lubang yang sudah ditutup dengan kaca, lubang ini dahulu adalah bekas tembakan meriam yang menyerang istana saat terjadinya peperangan dalam perebutan pulau Banda.

Apabila kita berjalan ke  arah luar samping, kita masih bisa menemukan patung Willem III di halaman, beliau adalah Raja Belanda tahun pemerintahan 1849-1890.

Di sisi Barat, ada bangunan societeit harmonie, dulunya berfungsi sebagai pusat hiburan dan tempat bersantai bagi para pejabat pemerintah. Sedangkan di sisi timur, ada rumah deputy governoor VOC.