Wisata Gunung Merapi, Melihat “Peninggalan” Erupsi

Setelah erupsi pada 2010, Gunung Merapi membuka lokasi wisata untuk dapat menikmati “peninggalan” bencana ini. Letusan-letusan gunung Merapi yang telah memporakporandakan desa-desa di sekitar akibat lava yang dimuntahkan ternyata telah memberikan berkah lain bagi penduduk sekitar.

Gunung Merapi terletak di tengah pulau Jawa dengan posisi lereng terbagi di dua provinsi. Lereng bagian selatan terletak di Kabupaten Sleman, Yogyakarta, sedangkan lereng  bagian utara berada di Kabupaten Magelang, Jawa Tengah. Gunung api yang paling aktif di Indonesia ini telah meletus sebanyak 68 kali sejak 1548, dengan interval waktu  setiap 2 hingga 3 tahun sekali untuk letusan- letusan kecil dan interval waktu 10-15 tahun sekali untuk letusan yang besar. Rangkaian letusan yang terjadi di tahun 2010 dievaluasi sebagai letusan terbesar sejak letusan tahun 1872.

Keberadaan Gunung Merapi seolah tak lepas dari sosok seorang guru kunci bernama Mbah Marijan atau  Mas Penewu Surakso Hargo, gelar yang dianugerahkan oleh Sultan Hamengkubuwonao IX dengan pangkat sebagai Mantri Juru Kunci. Beliau  tidak pernah pergi meninggalkan Gunung Merapi meskipun gunung ini telah beberapa kali meletus, sekalipun pemerintah setempat mewajibkan penduduk disekitar daerah berbahaya dievakuasi.

Letusan hebat di tahun 2006 tidak mematahkan nyali Mbah Marijan untuk tetap bertahan di kampungnya di Dusun Kinahrejo, Cangkringan, Sleman. Hingga akhirnya pada 26 Oktober 2010, Gunung Merapi kembali meletus disertai awan panas setinggi 1,5 kilometer. Gulungan awan panas tersebut meluncur turun melewati kawasan tempat mbah Maridjan bermukim. Selanjutnya tim SAR menemukan Mbah Marijan tewas di rumahnya dalam posisi bersujud.

Setelah erupsi pada 2010, Gunung Merapi membuka lokasi wisata untuk menikmati “peninggalan” bencana ini. Letusan-letusan gunung Merapi yang telah memporakporandakan desa-desa di sekitar akibat lava yang dimuntahkan ternyata telah memberikan berkah lain bagi penduduk sekitar. Kisah Heroik Mbah Marijan yang legendaris dan perubahan pemandangan alam sekitar menjadi daya tarik tersendiri bagi wisatawan. Masyarakat sekitar akhirnya meraih rezeki dari kunjungan wisatawan yang semakin meningkat. Museum Gunung Merapi yang didirikan oleh pemerintah dan museum-museum mini yang dikelola penduduk dari rumah penduduk korban lava gunung merapi menjadi daya tarik tersendiri, khususnya petilasan Mbah Marijan.

Untuk melengkapi fasilitas wisata, masyarakat menyediakan ojek, sewa trail, sewa Jeep, penginapan dan hingga warung yang akhirnya tidak hanya berada di kawasan Cangkringan saja. Banyak pilihan tour ditawarkan, diantaranya Lava Tour yang menawarkan 3 pilihan rute.

Rute pertama atau Short memungkinkan Sobat Pesona mendatang 3 lokasi, yaitu Mini Museum, Batu Alien dan Bunker dengan tarif Rp 350 ribu per orang. Selanjutnya ada rute Medium yang menawarkan 4 lokasi, sama seperti rute Short tapi dengan tambahan Rumah Mbah Marijan atau ke Kali Kuning serta menikmati sunrise ke Bunker. Rute ini dikenakan biaya sekitar Rp 450 ribu dengan waktu keberangkatan pukul 4.30 pagi. Terakhir adalah rute Long dengan tariff Rp 550 ribu. Dengan rute ini, kita akan diajak ke Batu Alien, Bunker, Petilasan Mbah Marijan dan Kali Kuning.

Sobat pesona tertarik untuk mencoba melakukan tur Gunung Merapi? Rute mana yang menarik untuk dicoba? Segera jadwalkan perjalanan ke Gunung Merapi, yuk!

Reporter : Ati Bachtiar