Menikmati Bandung dari Menara Masjid Raya

Menara kembar dibangun pada tahun 2001 seiring dengan renovasi besar-besaran pembangunan Masjid Agung Bandung. Awalnya, menara ini dirancang dengan tinggi 99 meter yang melambangkan nama-nama Allah. Akan tetapi, lantaran pertimbangan keamanan lalu lintas udara, menara hanya diizinkan setinggi 81 meter seperti yang terlihat sekarang.

Menikmati Bandung dari ketinggian sungguh mengagumkan. Bagaimana jika ingin melihat lanskap kota ini ke berbagai penjuru angin dengan leluasa? Tak perlu jauh-jauh, pesona Bandung dapat dinikmati di menara kembar di Masjid Raya Bandung. Selain lokasinya mudah dijangkau, menara ini dapat diakses siapa saja termasuk anak-anak. Namun demikian, tidak seperti halnya masjid yang dibuka 24 jam, kunjungan ke menara dibuka mulai pukul 10.00 hingga 16.00 WIB.

Menara kembar dibangun pada tahun 2001 seiring dengan renovasi besar-besaran pembangunan Masjid Raya atau Masjid Agung Bandung.  Awalnya, menara ini dirancang dengan tinggi 99 meter yang melambangkan Asmaul Husna yakni nama-nama Allah. Akan tetapi, lantaran pertimbangan keamanan lalu lintas udara Bandara Husein Sastranegara, menara hanya diizinkan setinggi 81 meter seperti yang terlihat sekarang.

Dinding menara berbentuk segi delapan dan sekeliling puncaknya dilengkapi kaca dan kaca jendela berterali sehingga aman bagi wisatawan. Selain untuk kepentingan spiritual, menara kembar difungsikan untuk kepentingan telekomunikasi dan objek wisata.

Setelah beroleh tiket, kita harus mengantre hingga tiba giliran. Ada lift yang akan membawa kita hingga berada di puncak menara dengan kapasitas maksimal 10 orang. Yang perlu diperhatikan tentu ketertiban dan kebersihan selama berada di kawasan masjid. Wisata ini mewajibkan pengunjung tidak membawa alas kaki bahkan tas ke puncak menara dan bisa menitipkannya di loker penitipan barang.

Begitu pintu lift terbuka di puncak menara, pemandangan 360 derajat Kota Bandung menjadi milik kita, termasuk potret permukiman padat yang membentuk kota ini. Sebuah pengalaman menarik bisa bikin takjub siapa pun selama 15 menit berada di menara. Semilir angin yang masuk lewat kisi-kisi kaca jendela menambah suasana yang memanjakan mata. Kaca jendela yang lumayan besar di menara menjadi pilihan berswafoto dengan latar pemandangan Bandung di ketinggian.

Memandang ke sebelah timur, paling dekat tersaji Taman Alun-alun Kota Bandung secara utuh yang banyak dikunjungi wisatawan. Pola rumput sintetis berwarna hijau terlihat demikian estetik dan menakjubkan. Agak ke kanan, pandangan akan tertuju ke Pendopo Kota Bandung. Jika ingin melihat jembatan ikonik Pasupati, tinggal membalikkan badan dan pandangan arahkan ke utara.

Salah satu lalu lintas tersibuk kota ini yakni Jalan Asia Afrika juga terlihat dari puncak menara termasuk sejumlah bangunan tua yang berdiri anggun di sepanjang jalan itu. Bangunan tersebut antara lain Hotel Homann, Gedung Kantor Pikiran Rakyat, Gedung Merdeka, Gedung PLN, gedung bekas Nederlandsche Handel Mij (NHM), gedung bekas NI Escompto Mij, Gedung Pos Besar hingga Gedung Jiwasraya.

Bila cuaca sedang cerah, pemandangan indah pergunungan yang mengeliingi Bandung terlihat jelas dan leluasa diabadikan lewat kamera. Ke arah timur, kita bisa menikmati pesona Gunung Manglayang sejauh mata memandang, Gunung Tangkuban Parahu dan Burangrang nampak jelita di sebelah utara, Gunung Malabar tersenyum di sebelah selatan dan perbukitan karst di sebelah barat. Jika kebetulan, kita bisa melihat lebih dekat pesawat yang melintas di atas menara.