Kirab Pengantin Khitan di Muludan Gegesik

Yang menarik, acara khitanan atau sunatan massal di Gegesik menjadi penutup acara tradisi masyarakat Gegesik setelah mengarak pusaka Buyut Gruda. Jadi selain untuk menghibur peserta sunatan massal, arak-arakan Buyut Gruda sekaligus juga untuk melestarikan budaya daerah.

Di kecamatan Gegesik, Cirebon Jawa Barat, berjarak sekitar 37,6 km dari Cirebon, hari lahirnya Nabi Muhammad SAW yang dikenal dengan istilah Maulid Nabi, diperingati dengan meriah. Mulai dari kegiatan bakti sosial, ceramah keagamaan serta kegiatan-kegiatan pertunjukan rakyat tradisional berupa massres (sandiwara), pasar malam, juga pementasan berbagai kesenian lainnya digelar. Puncak acaranya adalah Khitanan Massal yang pada tahun 2018 diikuti oleh 27anak, dibarengi arak-arakan Buyut Gruda yang memang sudah menjadi adat-istiadat para sesepuh masyarakat Gegesik kidul secara turun-temurun.

Khitanan Massal menjadi inti acara Maulid sepertinya ada hubungannya dengan apa yang Rasulullah lakukan terhadap kedua cucunya, Hasan bin Ali bin Abi Thalib dan Husein bin Ali bin Abi Thalib, yang dikhitan pada saat masing-masing baru berusia tujuh hari. Sementara itu menurut hadis yang diriwayatkan oleh Anas bin Malik dan Ibnu Abdul Bar, Rasulullah SAW telah dikhitan sejak dilahirkan. Sepertinya dari pendekatan itulah inti acara Maulid Nabi Gegesik digelar.

Sementara itu dalam sejarah Islam, khitanan atau sunatan sudah dikenal sejak zaman Nabi Ibrahim AS, lalu diikuti oleh para Nabi dan Rasul sesudahnya. Namun, sejumlah riwayat dan literatur menerangkan bahwa sunatan telah ada sejak zaman Nabi Adam AS. Tertulis pada prasasti masa Babilonia dan Sumeria Kuno, sekitar tahun 3500 Sebelum Masehi (SM), bangsa Mesir Kuno sekitar 2200 SM, juga pada makam Raja Mesir Tutankhamun. Di situ tertulis tentang praktik-praktik sunatan di kalangan raja-raja (Firaun). Tujuan mereka melaksanakan sunatan adalah untuk kesehatan.

Yang menarik, acara khitanan atau Sunatan massal di Gegesik menjadi penutup acara tradisi masyarakat Gegesik setelah mengarak pusaka Buyut Gruda. Jadi selain untuk menghibur peserta sunatan massal, arak-arakan Buyut Gruda sekaligus juga untuk melestarikan budaya daerah.

Sementara itu anak-anak yang akan disunat sebelum arak-arakan ada yang sengaja datang ke studio foto. Selanjutnya baru menuju Kantor Desa Gegesik Kidul dimana tandu berhias untuk acara Kirab Budaya sudah siap membawa mereka berkeliling desa.

Banyak warga Gegesik bahkan dari kabupaten lain seperti Indramayu, Kuningan, Majalengka, Cirebon, datang menyaksikan acara Kirab Budaya hasil kreasi dari masyarakat 5 desa di kecamatan Gegesik dan Cirebon. Usai kirab, dilakukan penilaian hasil kreasinya. Lalu ditutup doa bersama memohon agar senantiasa diberikan berkah dan rahmat serta diberikan hasil panen melimpah di tahun-tahun berikutnya.