Rekomendasi Wisata Saat ke Wamena

Wamena sungguh bisa dinikmati dari segala apa yang ada di dalamnya. Saat kita masih di atas pesawat saja, pemandangan alam dari ketinggian sangat indah. Bukan hanya keindahan alam seperti Danau Sentani dan Danau Habema saja, jangan lupa mampir untuk melihat mumi Wim Motok Mabel dan mencoba kuliner unik di sini.

Hanya satu jam perjalanan dari Jayapura, kita bisa tiba di Bandara Wamena. Tidak ada nomor tempat duduk di pesawat ini, jadi bergegaslah naik apabila ingin mendapatkan posisi di dekat jendela untuk melihat pemandangan Danau Sentani dari udara. Menjelang landing, jajaran bukit dan lembah tertutup awanpun bagai menyambut kehadiran kita.

Dari Wamena, tujuan saya adalah Danau Habema yang berada di ketinggian 3.125 mdpl. Dibutuhkan tiga jam perjalanan dari Wamena dengan kendaraan four wheel drive karena jalanan yang dilalui masih tanah dan berbatu.

Dahulu, danau ini disebut Yuginopa. Sebagian penduduk masih menyebut danau ini dengan nama asalnya. Nama Habema kemudian muncul dari nama seorang perwira dari Belanda, Letnan D Habbema. Ia mengawali ekspedisi yang dipimpin H.A Lorentz di kawasan tersebut pada tahun 1909. Danau Habema berada di area Taman Nasional Lorentz, dengan luas area mencapai 2,4 juta hektare. Jika nanti Sobat Pesona berkesempatan ke sini, saya sarankan untuk pakai sarung tangan, jaket tebal dan kupluk karena suhu di danau ini mencapai 7 drajat celcius.

Usai melihat Danau Habema, saya menuju ke Desa Jiwika di Distrik Kurulu. Jaraknya sekitar 45 menit dari pusat kota. Tujuan saya ke sini adalah untuk melihat mumi panglima perang Wim Motok Mabel, warga Suku Dani. Untuk dapat melihat mumi ini, kita harus membayar sekitar 300 ribu hingga 500 ribu rupiah, tergantung negosiasi yang disepakati dengan penduduk.

Setelah melihat mumi Wim Motok Mabel, jangan lewatkan mampir ke bukit di sisi kanan. Kita akan melihat pemandangan pasir putih seperti pasir pantai, tapi berada di atas bukit. Lokasi ini disebut Bukit Sumpula yang juga berada di Distrik Kurulu.

Usai menikmati alam, sempatkanlah mampir ke Pasar Jibama. Pasar ini berada di pusat kota, bisa ditempuh selama 15 menit dengan menggunakan becak. Sobat Pesona mungkin bisa menemukan souvenir khas Papua di sini, seperti noken (tas) dan koteka, asal pandai-pandai menawar.

Di sini kita juga bisa jumpai talas marmer. Sobat Pesona mungkin sudah tahu talas, panganan khas Bogor yang biasa dijual dengan harga 10 ribu hingga 20 ribu. Namun di Wamena , jangan heran harga jika harga untuk 5 atau 7 buah talas marmer dihargai 100.000 rupiah, sementara yang lebih kecil ukurannya 50.000 rupiah. Memang bentuk talas di Wamena unik karena motifnya mirip marmer dengan semburat warna ungu, makanya disebut talas marmer. Namun, menurut saya rasanya hampir mirip dengan talas Bogor.

Satu lagi kuliner yang juga harus dicoba adalah udang selingkuh. Hewan ini memiliki tubuh udang, tapi capitnya seperti kepiting. Makanya warga sekitar “mengira” udang ini selingkuh dengan kepiting. Nama lain udang selingkuh adalah lobster air tawar dengan nama latin Cherax albertisii. Harga seporsinya berkisar 100.000-300.000 rupiah, tergantung pada besar kecilnya udang yang disajikan.