Kisah Bengkulu, Dari Masa VOC Hingga Perjuangan Sukarno

Nama Bengkulu kerap dilupakan dalam sejarah perjuangan bangsa ini. Padahal, kota ini banyak menyimpan bukti-bukti heroisme Indonesia.

Bengkulu, provinsi di pesisir barat pulau Sumatra menyimpan banyak sejarah nusantara yang menarik untuk disimak. Hingga kini bangunan fisik peninggalan bersejarah itu masih terawat dengan baik dan menjadi destinasi wisata sejarah. Mengunjungi tempat-tempat bersejarah ini, akan membuka kembali wawasan pengetahuan tentang sejarah perjuangan Bangsa di masa lalu.


Benteng Marlborough
Benteng Marlborough Bengkulu dibangun pada 1714 sampai dengan 1719 oleh Kerajaan Inggris Raya pada era pemerintahan Gubernur Jenderal Joseph Collet. Benteng seluas sekitar 44.100 meter persegi ini berada di tepi Samudera Hindia menghadap ke selatan, dibangun untuk mempertahankan kekuasaan Kerajaan Inggris di Bengkulu saat itu.

Sebagian besar bangunan Benteng Marlborough masih utuh. Menyusurinya, Sobat Pesona bisa merasakan bagaimana perebutan tanah jajahan oleh bangsa-bangsa Eropa di masa lalu. Dari atas benteng, Sahabat Pesona dapat menikmati hamparan pasir putih dan deretan cemara pantai Tapak Padri yang bersambung hingga Pantai Panjang Bengkulu.

Di bagian depan, terdapat tiga makam tua yang merupakan peristirahatan terakhir Residen Thomas Parr, pegawainya Charles Murray dan satu makam lagi milik Captain Robert Hamilton yang mati dibunuh warga Bengkulu kala itu. Di bagian luar benteng dikelilingi parit buatan.


Rumah Bung Karno
Berkunjung ke Bengkulu singgahlah ke rumah pengasingan Bung Karno yang terletak di Kelurahan Anggut, Kecamatan Ratu Samban, Bengkulu. Sebuah rumah bergaya lama ini dulunya milik saudagar Tionghoa bernama Tjang Tjeng Kwat itu.

Kini rumah ini  telah menjelma menjadi objek wisata sejarah. Di rumah inilah Bung Karno menjalani masa-masa pengasingannya pada 1938-1942 setelah dipindah dari Ende, Flores. Rumah ini menjadi saksi bisu, romansa kisah cinta segitiga Bung Karno, Ibu Inggit Garnasih & Ibu Fatmawati.


Rumah Ibu Fatmawati
Rumah panggung kecil dengan gaya arsitektur khas Bengkulu, hanya terdiri dari beranda, ruang tamu, dua kamar tidur dan sebuah kamar mandi. Bagian depan rumah berhiaskan ukiran khas Melayu. Di ruang tamu terpajang foto-foto Fatmawati bersama Bung Karno dan putra-putrinya.

Di kamar sisi kanan terdapat mesin jahit yang dipakai oleh Bu Fat untuk menjahit Sang Saka Merah Putih dari dua helai selendang. Rumah ini sebenarnya bukan rumah milik keluarga Ibu Fatmawati ataupun pernah ditempati beliau. Melainkan dulunya, rumah ini milik kerabat Fatmawati yang tinggal di kota Bengkulu, kemudian dihibahkan kepada pemerintah kota untuk dijadikan objek wisata sejarah Bengkulu.


Makam Inggris Jitra
Kompleks makam Inggris terletak tak begitu jauh dari Fort Marlborough dan Lapangan Merdeka, tepatnya di Kelurahan Jitra, Kecamatan Teluk Segara, Kota Bengkulu. Konon, makam Inggris Bengkulu sudah ada sejak 1775. Pengelolaannya di bawah Balai Pelestarian Cagar Budaya Jambi. Dulunya, ada lebih dari 100 nisan sekarang tinggal tersisa 53 nisan saja karena adanya pembangunan di sekitar kompleks makam.

Kondisi sebagian makam telah rusak karena dimakan usia. Sebagian lagi hilang papan namanya. Namun masih ada juga tulisan di batu nisan yang dapat terbaca dengan jelas.


Makam Sentot Alibasyah
Sentot Alibasyah adalah seorang panglima perang Pangeran Diponegoro ketika melawan kolonial Belanda di tanah Jawa. Makamnya  berada di Kelurahan Bajak, Kecamatan Teluk Segara, Kota Bengkulu, menyatu dengan pemakaman umum warga setempat.

Belanda berhasil menumpas perang Diponegoro setelah berhasil menangkap pangeran Diponegoro di Magelang dengan cara yang licik. Panglima perangnya, Pangeran Alibasyah Prawiradirdja atau yang lebih dikenal dengan Sentot Alibasyah pun ikut ditangkap dan kemudian diasingkan ke Sumatra Barat.

Sentot Alibasyah menjalani masa pengasingan, karena beliau memberikan dukungan pemberontakan kepada kaum Paderi di Sumatra Barat, maka oleh Belanda, Sentot Alibasyah dipindahkan ke Cianjur, Jawa Barat, lalu dibawa ke Batavia. Beliau kemudian diizinkan untuk menunaikan ibadah haji oleh Belanda. Sepulang ibadah haji, Sentot Alibasyah dibuang ke Bengkulu hingga menghembuskan nafas di sana.


Masjid Jami’ Bengkulu
Masjid Jami’ Bengkulu berada di Jl. Letjend Suprapto, Tengah Padang, Ratu Samban, Kota Bengkulu. Masjid ini merupakan peninggalan karya arsitektur Ir Soekarno, yang kala itu sempat menjalani masa pengasingan di Bengkulu pada tahun 1938 – 1942.

Dulunya masjid ini hanya berbentuk surau kecil. Karena merasa prihatin dengan kondisinya, Bung Karno merancang satu bangunan masjid bergaya Eropa dengan dua buah bubungan dan teras memanjang. Warga sekitar yang mayoritas dari suku Serawai bergotong royong membangun masjid ini.


Museum Negeri Bengkulu
Museum Bengkulu yang terletak di kawasan Padang Harapan di dalamnya tersimpan bukti sejarah Bengkulu dari waktu ke waktu. Terdapat artefak peninggalan peradaban batu dan perunggu, tempayan kubur, aneka kain besorek, tenun Enggano, naskah kuno huruf Ka ga nga, mesin cetak Drukkey Populair merek Golden Press yang dipakai untuk mencetak uang merah, yaitu sejenis Oeang Republik Indonesia (ORI) yang berlaku khusus di Bengkulu, diorama satwa, pernak pernik festival tabut dan lain-lain.


Rumah Raffles
Semasa memerintah di Bengkulu, Gubernur Jenderal Inggris Sir Thomas Stamford Raffles tinggal di sebuah rumah di depan lapangan Merdeka, tak begitu jauh dari Benteng Marlborough.

Setelah mengalami renovasi dan berbagai perubahan, kini rumah tinggalnya tersebut telah dialihfungsikan sebagai rumah dinas Gubernur Bengkulu.