Wisata ke Kampung Pelangi 200, Disambut Rumah Warna-Warni

Sejak Kampung Pelangi 200 diresmikan tahun lalu, warga Bandung dan berbagai daerah banyak yang datang untuk sekadar mengabadikan pesona warna kampung ini dan menyebarkannya lewat media sosial. Cat warna-warni yang menarik pandangan mata memadukan nuansa alam dan perkotaan di seputar kawasan.

Ingin menikmati suasana berbeda di Kota Bandung? Jalan-jalan ke Kampung Pelangi 200 adalah pilihan tepat. Pesona rumah berwarna-warni menjadi daya pikat kampung padat di tepi Sungai Cikapundung ini. Bagi pelancong yang datang membawa kendaraan terutama roda empat, ada baiknya di parkir di kawasan Teras Cikapundung.

Sejak Kampung Pelangi 200 diresmikan tahun lalu, warga Bandung dan berbagai daerah banyak yang datang untuk sekadar mengabadikan pesona warna kampung ini dan menyebarkannya lewat media sosial. Cat warna-warni yang menarik pandangan mata memadukan nuansa alam dan perkotaan di seputar kawasan. Meski saat ini beberapa bagian mulai memudar tergerus cuaca.

Perkampungan yang dibangun di lereng dengan kemiringan sekira 30 derajat tersebut terlihat estetik dari tepi Sungai Cikapundung.  Ribuan kaleng cat aneka warna telah dihabiskan untuk mewarnai dinding luar rumah seisi kampung. Warga setempat melakukannya secara bergotong royong dan menyelesaikannya selama enam bulan.

Hawa sejuk dan suasana asri menyertai langkah kaki menuju kampung yang kata orang mirip dengan kawasan perkampungan padat Favela di Rio de Janeiro, Brasil. Rasanya kurang afdal jika hanya menikmati warna-warni kampung ini dari jauh. Memang, nyaris tak ada ruang untuk berjalan saat menjejakkan kaki di Kampung 200. Rumah-rumah demikian rapat dan padat. Atap satu dengan lainnya hampir tak berjarak, pintu satu dengan pintu lainnya berdekatan, bangunan satu dengan lainnya tak ada yang tak menempel. Gang-gang yang supersempit menjadi ruang bermain seadanya bagi anak-anak kampung ini. 

Akan tetapi, nuansa warna yang kini melekat di permukiman menjadi oase yang memanjakan mata. Jalan setapak hingga dinding rumah diwarnai dan dilukis beragam motif sehingga menjadikan kampung ini unik dan banyak dikunjungi orang. Terlebih, bagi para penyuka fotografi dan aktivitas berswafoto.

Rupanya, kampung ini punya cerita unik mengapa diberi nama Kampung 200. Seturut penuturan salah seorang warga, nama Kampung 200 merujuk pada nominal uang ganti yang diterima warga sekira 20 tahun lalu. Warga yang menempati Kampung 200 sebelumnya membuka lapak kaki lima di lahan yang kini menjadi Sasana Budaya Ganesha ITB. Upah sebesar Rp 200 ribu dimanfaatkan warga untuk membangun rumah seadanya di lahan yang sementara kini mereka tempati.

Jika ingin jalan-jalan mengelilingi perkampungan ini, sebaiknya kondisi badan dalam keadaan prima dan punya stamina yang cukup serta berbekal air minum. Sebabnya, Kampung Pelangi 200 memiliki banyak anak tangga yang curam dan bakal melelahkan meski asyik dipandang karena penuh warna. Bahkan, beberapa anak tangga terlihat unik untuk menjadi latar objek foto.