3 Destinasi Ziarah Tanah Datar, Jalur Perang Padri yang Inspiratif

Wisata budaya dan ziarah ke Tanah Datar tak sekadar melihat bangunan benteng atau masjid bersejarah. Tapi juga menghidupi kembali semangat perjuangan Harimau nan Salapan dan Haji Miskin, seorang puritan Islam yang mendobrak kekolotan rezim adat dan ketidakbecusan elit penguasa mengemban amanah rakyat.

Selain memiliki budaya dan alam yang indah, Kabupaten Tanah Datar, Sumatra Barat juga memiliki situs-situs ziarah dan budaya yang telah melintasi abad. Kabupaten di kawasan pegunungan Minangkabau ini memiliki warisan sejarah dan budaya yang luar biasa. Dari masa pergolakan Perang Padri, legenda Harimau nan Salapan di masa kolonialisme Belanda, surau dan masjid legendaris yang berdiri sejak awal Abad 17.

Wisata ziarah ke Tanah Datar adalah perjalanan menyusuri waktu, perjalanan sejarah yang membentuk Minangkabau hingga seperti saat ini. Wisata budaya dan ziarah ke Tanah Datar tak sekadar melihat bangunan benteng atau masjid bersejarah. Tapi juga menghidupi kembali semangat Haji Miskin, seorang puritan Islam yang mendobrak kekolotan rezim adat dan ketidakbecusan elit penguasa mengemban amanah rakyat.

Siap menjelalah Tanah Datar yang legendaris dan menginspirasi, Sobat Pesona? Yuk, kita mulai dari 3 tempat bersejarah ini. 


Masjid Tuo Limo Kaum
Masjid yang dibangun tahun 1710 ini saban hari ramai oleh tawa kanak-kanak yang sedang mengaji. Selintas, tidak ada yang menarik dari masjid ini, namun ia kaya akan filosofi. Kata penjaga, tonggak masjid ini berjumlah 121 buah, yang melambangkan jumlah ninik mamak (pemangku adat) di tempat ini.  Tiang gantungnya berjumlah 15, sebanyak jumlah khatib dan bilal pada masa itu. Sedangkan 28 jendela masjid melambangkan 28 klan yang ada di sekitarnya. Sementara dua buah pintu menggambarkan Laran Nan Duo, yaitu sistem tata kehidupan di Minangkabau. Lima tingkat bagian atap melambangkan rukun Islam dan juga lima kaum.


Makam dan Surau Tuanku Pamansiangan
Tidak jauh dari Masjid Limo Kaum, ada makam dan surau Taunku Pamansiangan. Ia salah seorang imam Tarekat Syatariyah dulunya, tidaklah mengherankan, bila setelah kematiannya makam Tuanku Pamansiangan dikeramatkan oleh para pengikutnya. Pada bulan-bulan tertentu di kompleks makam Tuanku Pamansiangan banyak dikunjungi para peziarah yang datang dari berbagai daerah di Sumatera Barat.

Namun, riwayat Tuanku Pamansiangan tidak hanya sampai di sana. Ia bukan imam yang biasa. Ia adalah bagian dari Harimau Nan Salapan, sebuah kelompok yang ditakuti masa Perang Padri, perang selama tiga dekade yang menghanguskan dataran tinggi Minangkabau.

Perang yang tidak hanya menyisakan benteng-benteng Belanda seperti Benteng van der Capellen, tapi juga makam-makam ulama Padri. salah satunya adalah makam Tuanku Pamansiangan di Tanahdatar, beserta suraunya yang telah tua. Suatu hari di tahun 1833, Tuanku Pamansiangan gugur pada satu pertempuran melawan pasukan Belanda. Bersamaan dengan Pamansiangan, gugur juga seniornya bernma Haji Miskin.


Makam Haji Miskin
Makam Haji Miskin terletak tidak jauh dari jalan utama Padang-Bukittingi. Dari jalan utama itu menuju ke makam dihubungkan jalan setapak licin dengan tangga-tangga dari beton. Di ujung tangga-tangga itu, masa silam menyembulkan diri: sebuah makam dari abad ke-19 kokoh berdiri. Panjang makam hampir lima meter, yang sekelilingnya dipagari pagar besi. Makam itu diteduhi sebuah bangunan bergonjong empat lambang dari arsitektur tradisional Minangkabau. Batu-batu kecil tertata apik di tengah-tengah badan makam.

Di pinggiran badan makam telah dibeton dengan rapi sekalipun belum dihaluskan. Nisan makam itu, sebuah batu pipih setinggi hampir satu meter dengan lebar tigapuluhan senti dan sebuah pokok pohon dengan diameter hampir sama tetapi memiliki tinggi dua kali itu. Tidak ada nama, keterangan kematian, atau informasi apa pun pada kedua nisan itu. Tetapi, sebuah plang di pinggir makam tertulis: Situs Cagar Budaya Makam Haji Miskin.

Haji Miskin, tokoh yang dikenang sebagai seorang puritan Islam, yang hidup pada masa pergolakan Padri di Minangkabau. Ia terlibat dalam sejarah panjang perang saudara antara Islam dan adat di Minangkabau. Cara dia keras, radikal, lagi fanatik. Tetapi di zaman dia hidup, bagi pengikutnya, dia jelas pembaharu, pendobrak kekolotan rezim adat, ketidakbecusan elit penguasa mengemban amanat.


Foto: Fatris MF