Peninggalan-peninggalan Bersejarah dari Kerajaan Buton di Sulawesi Tenggara

Salah satu kerajaan yang berkembang di bumi pertiwi pada masa lampau adalah Kerajaan Buton yang berada di Kota Bau-Bau, Sulawasi Tenggara. Meskipun kerajaan ini sudah tidak ada, peninggalannya masih bisa kita temukan hingga sekarang.

Kerajaan Buton berdiri pada abad ke-14, tepatnya pada 1332 masehi. Keberadaan kerajaan ini tercantum dalam Kitab Negara Kerta Gama yang disusun oleh Empu Prapanca di Kerajaan Majapahit, pada 1364.

Sebelum menjadi kesultanan, Kerajaan Buton awalnya dipimpin oleh seorang ratu bernama Ratu Wakaaka. Lalu pada 1451, kerajaan ini berubah menjadi Kesultanan Buton, karena pengaruh ajaran Islam. Sultan pertama mereka adalah Sultan Murhum Kaimuddin.

Berikut ini beberapa peninggalan sejarah dari Kesultanan Buton.


1. Benteng Keraton Buton
Benteng ini memiliki panjang sekitar 2,7 kilometer yang mengelilingi pusat kekuasaan Kesultanan Buton. Benteng ini dibangun pada 1634 dan merupakan benteng pribumi terluas di dunia, dengan luas sekitar 23,375 hektare.

Benteng ini memiliki 12 pintu gerbang. Hingga saat ini, Benteng Wolio masih terpelihara dengan baik. Ini merupakan satu-satunya benteng yang mengelilingi satu kelurahan. Di dalamnya ada perumahan penduduk.

Posisi benteng ini ada di ketinggian, yang memudahkan kita melihat ke bawah dengan leluasa. Dari tepi benteng, kita bisa menikmati pemandangan Kota Bau-Bau dan hilir mudik kesibukan di Selat Buton.


2. Tiang bendera setinggi 21 meter
Menelusuri benteng peninggalan Kerajaan Buton, pasti akan bertemu satu tiang bendera setinggi 21 meter. Tiang ini didirikan pada abad ke-17, tepatnya pada 1721, dibuat dari kayu jati dan tingginya 21 meter di atas permukaan tanah.

Ketika itu, tiang ini digunakan untuk mengibarkan berndera Kerajaan Buton yang bernama Bendera Longa-longa.


3. Batu Popaua
Masih di dalam Benteng Keraton Buton, ada satu batu bersejarah yang diberi nama Batu Popaua. Batu ini merupakan tempat pelantikan dan pengambilan sumpah raja dan sultan di Buton.

Batu ini berlubang dan bisa memuat satu kaki. Saat dilantik, sultan atau raja harus memasukkan satu kakinya ke dalam batu ini, lalu mengambil sumpah. Pengambilan sumpah dilakukan dengan Al Quran yang usianya sudah ratusan tahun.


4. Masjid Kesultanan Buton
Jangan sampai melewatakan Masjid Kesultanan Buton. Masjid bersejarah ini didirikan pada 1712 oleh Sultan Sakiudin Darul Alam. Dulunya, bangunan masjid ini sangat sederhana dengan menggunakan atap rumbia dengan bentuk surau. Kini, masjid tersebut sudah direnovasi, dengan masih menyimpan nilai sejarah.

Sobat wisata, itu tadi beberapa tempat bersejarah yang bisa jadi pilihan destinasi kala berwisata ke Buton.

 

Foto: Willy Ervan