Meriahnya Kirab Budaya Muludan di Gegesik

Muludan di Gegesik diwujudkan dalam bentuk bakti sosial, ceramah keagamaan, bazaar kuliner, pameran kriya, pentas kesenian, permainan anak, memandikan benda pusaka Buyut Gruda dan sebagai puncak acara digelar Khitanan massal serta Kirab Budaya.

Gegesik, sebuah  Kecamatan di Jawa Barat, berjarak sekitar 37,6 km dari Cirebon kearah timur laut, kurang lebih 50 menit perjalanan. Dari Jakarta dapat ditempuh melalui jalur darat menyusur Jalur Pantai Utara melewati Pamanukan dan Indramayu. Atau Sobat Pesona juga bisa melalui jalur Cikampek, lalu ke Cadasngampar, Jatiwangi sampai ke Gunung Jati. Jika menggunakan kereta api Cirebon Ekspres, Sobat Pesona bisa berhenti di Stasiun Arjawinangun. Lanjut dengan menggunakan angkot hingga ke terminal Gegesik.

Desa yang mayoritas penduduknya bertani ini sarat dengan komunitas seniman. Pelukis kaca, penari topeng, dalang wayang kulit Cirebonan, grup musik, hingga ukir kayu. Setiap tahunnya digelar pentas seni yang melibatkan seluruh seniman dan penduduk di 5 desa di Kecamatan Gegesik.

Hari lahir Nabi Muhammad SAW pada 12 Rabiul Awal penanggalan Hijriyah, di Indonesia biasa diperingati dengan acara Maulid Nabi. Di Jawa Barat, istilahnya Muludan. Berbagai bentuk dan cara memperingatinya sesuai dengan karakter dan potensi masing-masing daerah. Di Gegesik diwujudkan dalam bentuk bakti sosial, ceramah keagamaan, bazaar kuliner, pameran kriya, pentas kesenian, permainan anak, memandikan benda pusaka Buyut Gruda dan sebagai puncak acara digelar Khitanan massal serta Kirab Budaya.

Satu hal yang membuat banyak wisatawan berbondon-bondong ke sini adalah ada hadirnya patung Buyut Gruda yang biasanya dipajang di teras balai desa Gegesik Lor. Hewan gaib pemberi berkah terbuat dari ukiran kayu gabungan naga dan burung garuda itu di keluarkan pada Muludan. Buyut Gruda dimandikan dan dirakit berbentuk tandu. Nah, air bekas memandikan Buyut Druda selalu diperebutkan. Makhluk campuran Garuda dan Naga yang telah berusia ratusan tahun itu dipercaya kerap datang ke sawah mencari hewan kecil seperti keong untuk di makan.

Acara inti Muludan di Gegesik adalah khitanan massal. Diawali arak-arakan atau Kirab Budaya yang sebetulnya untuk menghibur para pengantin sunat. Namun. pada prakteknya justru Kirab Budaya menjadi perhatian para pengunjung dan diharapkan mampu menjembatani generasi muda untuk berkreasi dalam perubahan zaman sekaligus mau untuk tetap menjaga identitasnya. Terbukti pada acara Kirab, warga dari beberapa desa menghias kendaraan atau usungan dengan tema-tema kreatif. selain tema tradisi, muncul juga tema yang kekinian namun tetap dalam balutan tradisi.  

Tradisi mengarak pusaka Gegesik memang merupakan budaya masyarakat Gegesik yang sudah dilaksanakan turun-temurun dan sudah menjadi agenda tahunan sebagai puncak peringatan Maulid Nabi untuk mempererat silaturahmi antara kuwu-kuwu, masyarakat Desa Gegesik dan para sesepuh tokoh masyarakat. Setelah dilakukan penilaian hasil kreasi Kirab Budaya, acara diakhiri dengan doa bersama untuk memohon kepada Yang Maha Kuasa agar senantiasa diberi berkah dan rahmat, serta diberi hasil panen melimpah di tahun-tahun berikutnya.

Reporter : Ati Bachtiar