Tarian Perang dan Bakar Batu Wamena

Peperangan selalu mewarnai kehidupan masyarakat Wamena untuk menyelesaikan masalah. Namun, kini Tari Perang menjadi sajian seni nan indah. Tarian ini dilengkapi dengan peralatan adat yang digunakan, dari tombak, bulu, taring, kalung kerang, rok sali, semua lengkap dan menciptakan suasana tersendiri.

Desa Kilise adalah desa tradisional di Lembah Baliem yang berada ketinggian 1.800 mdpl. Sepanjang perjalanan, kita bisa menyaksikan keindahan bukit dan lembah. Jangan khawatir, di desa ini sudah tersedia penginapan khusus untuk turis bernama yaitu Honai. Ada 5 Honai tersedia di sini.

Penduduknya ramah dan terbuka bagi pendatang. Untuk mendapatkan sajian Tari Perang dan Upacara Bakar Batu, kita bisa membeli babi dengan harga minimal 3.5 juta dan membayar upacara adat pada kepala suku.

Semua mace (sebutan bagi kaum perempuan) berkumpul dilapangan, berhias sali (anyaman akar pohon yang dibentuk seperti rok) di kepala sudah menempel noken. Noken bukan saja berfungsi sebagai tas namun sudah menjadi bagian dari kostum adat bagi mereka. Sekumpulan pace berteriak menyerukan perang akan dimulai. Drama perangpun disajikan.



Peperangan selalu mewarnai kehidupan masyarakat Wamena untuk menyelesaikan masalah.  Namun, kini Tari Perang menjadi sajian seni nan indah. Tarian ini dilengkapi dengan peralatan adat yang digunakan, dari tombak, bulu, taring, kalung kerang, rok sali, semua lengkap dan menciptakan suasana tersendiri.  Taring babi diturunkan ke bawah, panah dan tombak diayun-ayunkan dan siap dihunuskan ke pihak lawan, teriak-teriakan semangat terus bergemuruh, dengan kata-kata tanpa makna, tapi jiwa ksatria begitu tergambar. 

Dan akhirnya perang usai dan kemenangan berhasil di raih. Tari-tarian dilakukan dan nyanyian senandung kembali keluar dari pace dan mace.  Kami turut serta tenggelam dalam tarian perang  dengan bergoyang suka-suka dan berteriak suka suka.

Tak lengkap Tarian Perang tanpa suguhan Bakar Batu yang melambangkan rasa syukur serta penghormatan pada tamu dan bentuk rasa kebahagiaan serta kebersamaan.  Kaum wanita pergi ke kebun memanen ubi (hipere),  memetik daunnya dan menebas rumput-rumputan. Sedangkan kaum lelaki mempersiapkan batu, menyusun kayu di atas sebuah lubang tanah berukuran 2 meter dengan tinggi hampir setengah meter.  Kayu di letakkan di tanah, tali digesekkan berulang, semakin kencang dan asap mulai muncul dari celah kayu, jerami kering mulai memunculkan api api. 



Dua pace berdiri memegangi keempat kaki babi. Anak panah melesat ke jantung babi. Api kini sudah berkobar, kayu-kayu kering menjilat liar di setiap celah batu, batu kali yang terlihat pucat kini legam oleh bara api.  Di tanah berlubang sisi lainnya, para mace hilir mudik menumpuk hasil panen ubi mereka, daun ubi, alang-alang dan aneka rerumputan beraroma khas sebagai bumbu.

Babi sudah berada di atas batu panas dan beramai-ramai mace menutupnya kembali dengan rerumputan dan sayuran. Lapisan terakhir kembali batu panas dan ditutup sayuran dan rumput kembali. Aroma masakan mulai tercium, asap mengepul dari sela sela tumpukan rumput. 

Kepala suku memerintahkan para  pace membuka sajian bakar batu. Lapisan rumputan pertama dibuka, tampak sayuran daun ubi sudah menguning, babi sudah tampak putih dan barisan paling bawah ubi (hipere) berbongkah bongkah di bongkar satu persatu, bak mencari harta karun.

Dan saat itu juga mereka menyantapnya dengan lahap, tanpa memperdulikan panas yang masih mengepul.  Semua mendapat bagian, pace, mace anak-anak berbagi makanan, dalam suasana akrab dan hangat, tawa canda dan antusias melahap hipere. Dari sebuah tampilan Tari Perang, saya melihat kearifan lokal ketika perselisihan diselesaikan dengan jiwa patriotism dan kemenangan di sajikan dalam kebersamaan dengan Bakar Batu.