ROEMBOER, Cerita Tentang Modiste Legendaris Tangerang

Ada dua hal yang menggelitik tentang bangunan ini. Yang pertama, namanya. Yang kedua, bangunannya. Namanya, ROEMBOER – Tangga Ronggeng, itu juga dari dua sejarah yang berbeda.

Rumah di Jalan Cilangkap No.44, Pasar Lama, Sukasari, Kecamatan Tangerang, Kota Tangerang ini dahulu milik modiste kebaya encim, lantas dijadikan sarang burung walet, sebagaimana beberapa rumah lain di Pasar Lama. Dari sanalah nama Roemboer (Roemah Boeroeng) didapat.

Sedangkan nama Tangga Ronggeng berasal dari keberadaan rumah judi di tepi Cisadane yang kerap mendatangkan ronggeng pada awal abad ke-20. Sehingga disebutlah tepian sungai tempat mereka mandi itu sebagai Tangga Ronggeng.

Roemboer dimaksudkan sebagai Museum Kuliner. Namun karena sekarang masih dalam tahap menghimpun materi dan biaya untuk menutup operasionalnya, untuk sementara, Roemboer hanya digunakan untuk kegiatan-kegiatan budaya, seperti Sincia, Capgome, Pehcun serta menerima tamu-tamu khusus.

Lantai 1 Roemboer difungsikan untuk lobi, ruang registrasi, dan dapur. Lantai 2 dinamai Ruang Retro dan difungsikan untuk memamerkan kamera kuno dan untuk demo kaligrafi. Sedangkan lantai 3 adalah Restoran yang menyediakan menu Peranakan.

Karena letaknya hanya terpisahkan jalan dengan Sungai Cisadane (bangunan membelakangi sungai), maka dari jendela Roemboer kita bisa menikmati pemandangan sungai bersejarah ini dengan sampan kayu yang membawa penumpang menyeberang.


Bagian Wisata Kota Lama
Pemilik Roemboer, Udaya Halim (Lim Tjin Pheng, 66 tahun), adalah juga pemilik Museum Benteng Heritage di Pasar Lama Tangerang. Udaya, yang lahir hingga dewasa di Pasar Lama, menyebut Rumah Cilangkap 44 yang asalnya dua lantai tersebut adalah salah satu bangunan unik di kawasan Pasar Lama sewaktu dia kecil. Pasalnya bagian utamanya bergaya Tionghoa abad ke-18, dan bagian sampingnya bergaya kolonial yang ditambahkan pada akhir abad ke-19.

Pemilik semula Rumah Cilangkap 44 adalah keluarga Pee. Istrinya dikenal dengan panggilan “Encim Pon”, adalah seorang modiste terkenal di Tangerang yang khusus membuat bordir kerancang kebaya.

Pada 1973 Rumah Cilangkap 44 dijual ke orang Jakarta pengusaha burung walet untuk dijadikan sarang burung walet. Harga sarang walet tahun 1980-an bisa mencapai US$5 ribu per kilogram, tak heran jika banyak terjadi kasus pencurian sarang walet. Untuk mencegah pencuri, pemilik rumah ini mengecor dinding rumah dan atap yang membuat bagian dalam rumah hancur.

Udaya membeli Rumah Cilangkap 44 lantas merestorasinya sepanjang sepanjang awal 2013 hingga akhir 2014 dengan mengembalikan ke bentuk semula sepanjang masih ada jejaknya. Semua kayu dan genting digunakan kembali. Keunikan rumah ini menjadi tantangan saat merestorasi, yakni tinggi atap dan kontur lantai di lantai 2 tidak rata.

Udaya dan tim restorasi akhirnya menambah satu lantai lagi dengan menyingkap sedikit atap wuwungan untuk mendapatkan ketinggian. Tepian atap dibuka serta ditambah balkon dari beton cor di lantai 3. Dibuat juga pendopo di tempat yang tadinya beratap lebih rendah.

Baja yang dikamuflase pun terpaksa digunakan untuk menurunkan langit-langit di bagian Ruang Retro lantai 2 untuk memberi ruang dan ketinggian lantai atasnya. Itu sebab di lantai 2 ada tiga kontur lantai yang masing-masing dihubungkan dengan tangga-tangga pendek tiga anak tangga.

Untuk memperingati nasib Rumah Cilangkap 44 yang pernah dijadikan sarang burung walet, Udaya memberi nama baru Roemboer atau Rumah Burung. Hiasan burung dipasangkan di atapnya, juga di bagian muka lantai 2 dipasang keramik berbentuk burung walet.

Sejak 2015, Roemboer menggelar acara-acara budaya Peranakan. Perayaan Pehcun tahun 2019, misalnya, dengan tema cabe sebagai lambang kejujuran dan kesetiaan, Roemboer mengadakan lomba merangkai dan mendekorasi cabe, lomba membuat gado-gado dan sambal, pameran pohon dan bibit cabe, serta bazar makanan pedas.


Foto: Silvia Galikano