Melihat Pertunjukan Sintren yang Mistis dan Sarat Makna

Sintren berasal dari kata “sindir” dan “tetaren” (pertanyaan melalui syair yang perlu dipikirkan jawabannya). Grup sintren biasanya terdiri dari dalang dan 2 sampai 3 pembantu dalang, 4 orang nayaga, 3 orang pesinden, 4 orang penari latar, seorang penari utama. Seluruh penari Sintren harus gadis belia yang masih perawan.

Seorang gadis belia tampil di arena sambil membawa seperangkat pakaian didampingi  beberapa penari latar mendekati kurungan ayam yang dibungkus kain batik.  Sementara dalang membaca mantra sambil menghembuskan asap dupa ke wajah dan sekeliling tubuh si gadis, lalu melibat dengan kain batik dan mengikat badannya dengan seutas tali. Tubuh si Gadis terkulai.  Setelah dibungkus tikar, Dalang dan para pembantunya mengangkat tikar berisi tubuh gadis tadi dan melemparnya. Namun yang tampak hanya tikar pandan melayang. Tubuh si gadis tiba-tiba menghilang. 

Kemudian dalang dan pembantunya mengelilingi kurungan lagi-lagi mengasapinya dengan dupa. Sementara penari puteri lain tetap menari mengelilingi mereka seirama alunan lagu ‘Turun Sintren’ yang dinyanyikan pesinden. Saat dalang membuka kurungan ayam, tampak gadis yang semula  terikat sudah terlepas dari ikatan dengan memakai pakaian tari dan kacamata hitam. Kembali dalang mengasapinya. Seketika itu pula, si gadis menari meski seakan tak sadarkan diri. Saat penonton melemparinya dengan uang, tubuhnya lemas tak berdaya.  Lalu dalang membantunya berdiri. Demikian adegan itu dilakukan berulang-ulang.

Dipenghujung pertunjukan, dalang dan para penari mengelilingi kurungan ayam sambil mengembuskan asap dupa dan membacakan mantera . Penari utama yang tak sadarkan diri kembali masuk kedalam kurungan.  Mantera kembali diucapkan dan asap dupa dihembuskan. Saat kurungan ayam dibuka, penari telah berganti pakaian semula.

Begitulah inti dari pertunjukkan Sintren yang biasa di gelar di daerah pesisir Jawa Barat dan perbatasan Jawa tengah, khususnya di kabupaten Subang, Indramayu, Cirebon, Kabupaten Majalengka, Kabupaten Brebes dan Pekalongan. Pertunjukkan yang tampak berbau mistis, berkaitan dengan perangkat sintren terdiri dari kurungan ayam ditutup kain, uang, tikar pandan, kain batik, tali,  dupa, kemenyan dan pakaian pengganti.

Kurungan ayam mengandung makna bahwa hidup manusia mengalami fase melengkung seperti kurungan ayam. Manusia selalu berusaha menuju puncak, setelah berada di puncaknya akan kembali ke bawah. Dari tanah kembali ke tanah. Sementara uang yang dilempar ke penari sintren dan membuat penari terjatuh mengandung makna bahwa manusia selalu mendahulukan kebutuhan duniawi. Harta yang bisa menjatuhkan manusia.

Grup sintren  biasanya terdiri dari dalang dan 2 sampai 3 pembantu dalang, 4 orang nayaga, 3 orang  pesinden, 4 orang  penari latar, seorang  penari utama. Seluruh penari Sintren harus gadis belia yang masih perawan.

Sintren berasal dari kata “sindir” dan “tetaren” (pertanyaan melalui  syair yang perlu dipikirkan jawabannya). Selain dari kisah perjuangan pemuda-pemuda Cirebon lewat syair-syair penyemangat dalam pagelaran Sintren, kesenian di Cirebon ini juga menampilkan lirik-lirik legenda romantisme antara Selasih dan Sulanjana yang populer dikalangan masyarakat Jawa.  Sintren biasanya dipertontonkan saat pesta rakyat khususnya setelah panen padi.