Menyesap Kopi Careuh Liar Khas Lembang

Di zaman Belanda Lembang dikenal sebagai tempat asal-usul pertanian kopi Nusantara. Biji kopi arabica mudah saja tumbuh di sini dan menjadi camilan luwak atau dalam bahasa Sunda disebut “careuh”.

Kawasan Lembang, Bandung tak hanya menawarkan banyak lokasi rekreasi alam dengan pemandangan  menakjubkan, atau deretan restoran menjajakan makanan khas Sunda yang terkenal nikmat. Beberapa tahun belakangan di Desa Cikole muncul pula beberapa coffee shop tradisional yang menawarkan Kopi Luwak khas dataran tinggi Lembang.

Salah satunya adalah Sawarga: Kopi Luwak Tangkuban Parahu yang terletak di jalan Ir. Soekarno (dulu Jl. Raya Tangkuban Parahu) yang menghubungkan Bandung-Subang. Tempat ini tak hanya menjual Kopi Luwak dengan berbagai variasinya, namun sekaligus mengedukasi pengujung soal proses pengolahan Kopi Luwak liar. Mulai dari proses luwak pandan liar memakan biji-biji kopi secara alami, mengumpulkan fesesnya, pencucian/pengeringan, pengemasan, sampai penyajian.


Asli Feses Luwak Pandan Liar
“Kita biasanya membeli feses luwak yang mengandung biji kopi dari petani di sekitar sini. Biasanya per 1 kg kita beli Rp 100 ribu,” kata Dedeng Surya, pemandu kopi di Sawarga. Feses luwak ini kemudian diolah sendiri dan menghasilkan sekitar 400 gram kopi bubuk yang kemudian dijual dalam kemasan bervariasi atau bisa dinikmati langsung di resto mereka. Kopi yang diproduksi dari luwak liar memang menjadi salah satu pembeda kopi luwak Cikole, dengan daerah lain yang rata-rata diproses dari luwak kandang.

Kunci kenikmatan Kopi Luwak adalah karena luwak pandan memilih sendiri biji kopi terbaik yang akan dimakannya. Setelah biji kopi masuk ke perut, maka ada proses fermentasi yang mengubah citarasa dan aroma biji kopi karena pengaruh makanan (buah dan daging) luwak pandan. Hal tersebut memungkinkan karena biji kopi bersifat higroskopi atau menyerap molekul air dari lingkungannya.

Kunci kenikmatan selanjutnya ada di pengolahan. “Semuanya harus pas. Mulai dari penyucian sesuai rekomendasi MUI (7 kali untuk kehalalan), penjemuran 3-4 hari, penyortiran biji kopi yang paling bagus, dan juga proses sangrai 1-2 jam,” jelas Dedeng lagi. Proses penyajian dan penyeduhannya pun tak sembarangan, wajib memakai air mendidih bersuhu 90° C dan biarkan bubuk Kopi Luwak matang dicangkir tanpa diaduk sampai aromanya tercium.

Sawarga sendiri memiliki empat varian Kopi Luwak, masing-masing adalah Kopi Luwak Betina (terbelah dua) dijual percangkir Rp 65 ribu, Kopi Luwak Jantan (utuh) dijual percangkir Rp 125 ribu, Kopi Luwah Jahe Rp 50 ribu per cangkir, dan ada pula kopi scrubs yang diproduksi dari biji kopi grade kedua Kopi Luwak yang dibanderol Rp 100 ribu per 100 gram.

Foto : Rudy Ghupta