Sado Taringolu Penjaga Guma Pusaka

Warga Desa Porelea memiliki senjata khas bernama guma. Ada guma pusaka yang digunakan untuk upacara dan membela diri. Ada juga guma madika yang alat kerja sehari-hari.

Salah seorang tetua adat yang memegang peran penting dibangkitkannya rego adalah Sado Taringolu. Dialah penjaga kesenian Kulawi di Desa Porelea, Kecamatan Pipikoro, Kabupaten Sigi, Sulawesi Tengah. Syair-syair magis bahasa Uma tua tersimpan di kepalanya.

Warisan Kulawi lain yang dia jaga segenap hati adalah guma/piho (parang). Guma dengan panjang 1,5 meter disebut guma tadulako / tonolampa dan guma pendek (1 meter) disebut guma madika.

Setiap laki-laki dewasa wajib punya guma untuk dikenakan setiap keluar rumah. Lebih penting lagi jika laki-laki dewasa menghadiri acara adat, guma harus terikat di pinggang, meski terpaksa pinjam.

Guma tadulako koleksi Sado adalah guma tua, turun temurun dari leluhur, yang diserahkan ayahnya saat usia Sado 18 tahun. Matan (mata parang)-nya dari batu keras, dengan ukiran kepala manusia di pangkal matan, dekat gagang.

Sarung guma, disebut uncoa, terbuat dari kayu lepa kumea dan howu dihiasi ukir-ukiran indah. Di gagang, pulukalama, tersemat rambut sepanjang 30 cm. Rambut itu rambut manusia, musuh yang dikalahkan pada zaman perang suku dahulu.


Aturan Penggunaan
Karena ini guma pusaka, maka hanya digunakan pada acara-acara adat. Ambil contoh di acara rego, wajib minimal ada satu perego yang mengenakan guma tadulako di antara perego lain yang mengenakan guma madika.

Asalnya, guma tadulako “berisi” (istilah Sado, ber-bisa). Sehingga aturannya, jika guma ini sedang digunakan, orang lain di sekitarnya tak boleh berdiri atau sejajar tingginya dengan pemakai guma. Namun sekarang semua bisa sudah dihilangkan lewat upacara tertentu dan digosok merica putih muda.

Walau sudah tidak ber-bisa, guma tetap menyimpan tuahnya. Benda ini akan memberi tanda-tanda jika ada orang datang dengan niat jahat, seperti tahu-tahu hilang dari tempatnya disimpan atau berbunyi seperti mengetuk-ngetuk cepat dengan suara rendah.

“Dulu, kalau ada kopetau (orang jahat yang berniat membunuh), guma sudah ‘siap’ di pintu,” ujar Sado ketika ditemui di rumahnya.

Sado menerapkan pantangan untuk tidak memanaskan merica di atas api. Kalau sampai tercium bau merica, pemilik guma dan keluarga akan bisul-bisul, dari bisul kecil sampai bisul besar yang mematikan.

Sado punya tiga guma tadulako yang disimpan di rumah dan satu disimpan di rumah-kebun, yang katanya, “Untuk mencegah orang jahat.” Keempatnya bersemat empat jenis rambut berbeda. Artinya empat guma tadulako ini pernah digunakan berperang dan pernah mengalahkan musuh.

Ada lagi guma tadulako yang bukan bersemat rambut, melainkan bersemat kain merah. Artinya sama, bahwa guma ini sudah pernah digunakan berperang. Ada aturan ketat tentang guma tadulako yang pernah digunakan berperang, yakni tidak boleh dipakai orang lain selain pemilik resminya.

Jika guma tadulako adalah guma pusaka, guma madika adalah alat kerja yang digunakan sehari-hari untuk dibawa ke ladang, memotong pinang, membelah kelapa, atau sekadar memotong tali. Gagang (pulu) dan sarungnya tak berukir.


Foto: Silvia Galikano