Catatan Kuliner Rembang, Dapur Tradisional yang Berjaya

Sudah pernah ke Rembang? Sungguh pemandangan langka untuk menyaksikan restoran atau warung yang masih mempertahankan cara memasaknya secara tradisional. Selesai memesan daftar makanan yang di restoran Hien, saya lalu menuju ke dapur terbukanya. Terlihat seorang ibu sedang memasak di atas tungku.

 

Sudah pernah ke Rembang? Sungguh pemandangan langka untuk menyaksikan restoran atau warung yang masih mempertahankan cara memasaknya secara tradisional. Selesai memesan daftar makanan yang di restoran Hien, saya lalu menuju ke dapur terbukanya. Terlihat seorang ibu sedang memasak di atas tungku.

1. Restoran Hien
Hien, sebuah restoran besar yang masih memasak dengan menggunakan tungku. Di zaman seperti ini, tentunya pelayanan sebuah gerai restoran haruslah cekatan jika tidak ingin ditinggal pelanggannya. Terkecuali sebuah restoran tua di Rembang itu. Restoran peranakan di tengah kota Rembang itu hanya dengan menggunakan tungku atau anglo. Selama berada di restoran, saya penasaran lalu mengintip aktivitas dapurnya yang terbuka. Seorang ibu berusia lanjut dengan gesit menggerakkan wajan besar sambil merajang, mencampur bumbu, menggoreng dan sebagainya.

Kerjanya begitu efektif sehingga sekitar 6 menu makanan yang kami pesan datang dengan cepat dengan kelezatan yang pas. Kami memesan makanan laut karena itu adalah spesialisasinya, seperti kepiting, udang tepung, nasi goreng, sayur-mayur dan beberapa makanan lainnya. Terhidang dengan rasa yang konsisten. Luar biasa!

2. Sate Srepeh
Sate srepeh merupakan ikon kuliner Rembang dan dikenal sebagai masakan legendaris yang harus dicoba. Sate ini terbilang unik karena tampilan dan racikannya beda dengan sate ayam lainnya. Jika sate ayam dari Madura atau Ponorogo umumnya menggunakan kacang atau kecap, bumbu sate srepeh berwarna merah kekuningan dan bersantan, lebih encer daripada bumbu sate pada umumnya. Rasanya manis dengan sensasi rasa pedas dan gurih.



Bu Slamet, pemilik warung Sate Srepeh, menjelaskan racikan rahasia dapurnya. Bumbu sate srepeh terdiri dari gula merah, santan dan sejumlah bumbu dapur lainnya seperti bawang merah, bawang putih, garam, dan air.

3. Limun Kawista
Limun bukanlah sari buah lemon seperti yang saya pikirkan. Limun adalah sebutan untuk semua jenis minuman bersoda, sebuah istilah yang kini tidak lagi populer. Menyeruput segelas kawista sungguh menyegarkan. Lalu apa itu limun kawista? Kawista adalah sejenis buah yang konon hanya tumbuh di pesisir pantai utara.

Kawis atau kinca alias kawista (Limonia acidissima) ternyata adalah buah khas yang aromanya amat menusuk hidung dengan warna daging buah berwarna coklat kehitaman. Sirup kawista dengan merek Cap Dewa Burung milik Pudjiono Hariono cukup terkenal di Rembang. Sirup ini mulai diproduksi tahun 1952. Minuman ini bisa dibawa pulang sebagai oleh-oleh untuk keluarga. Limun produksi Pudjiono tidak menggunakan pengawet, oleh sebab itu hanya akan bertahan satu bulan.