Kisah Benteng Marlborough Sejak Zaman Penjajahan Inggris

Dibangunlah benteng seluas 240 x 170 meter di atas bukit buatan menghadap ke arah Bengkulu, memunggungi samudera Hindia. Benteng diberi nama Fort Marlborough untuk menghormati komandan ternama Inggris, John Churchill, bergelar Duke of Marlborough.

Jika ke Bengkulu, silahkan berkunjung ke Benteng Marlborough yang berlokasi di Jalan Ahmad Yani. Mengapa? Karena kisah Benteng yang dibangun East Indies Company (EIC) tahun 1713 ini sangat luar biasa.  Hubungan rakyat Bengkulu dengan Inggris (EIC) sudah berjalan sejak abad ke-17. Namun pada 1682,  Belanda (VOC) mampu mengungguli Inggris, khususnya setelah tercapai kesepakatan dengan kerajaan Banten mengenai monopoli perdagangan rempah-rempah. Hal ini memaksa Inggris keluar dari Jawa dan harus mencari tempat pangkalan baru. Akhirnya pilihan jatuh kepada Bengkulu.

Pada 1685, didirikanlah Pangkalan Fort York setelah memperoleh izin untuk menjalin hubungan dagang dengan para penguasa Bengkulu. Selang 30 tahun kemudian, Fort York menjadi kritis. Berbagai macam penyakit, umumnya disentri dan malaria, menyebabkan sebagian besar prajurit garnizun sakit. Akhirnya pimpinan Garnizun EIC, Joseph Collet, menulis surat kepada Dewan Direksi EIC untuk membangun benteng baru di Ujung Karang sekitar dua mil dari Fort York, sekitar tahun 1712.

Dibangunlah benteng seluas 240 x 170 meter di atas bukit buatan menghadap ke arah Bengkulu, memunggungi Samudera Hindia. Benteng diberi nama Fort Marlborough untuk menghormati komandan ternama Inggris, John Churchill, bergelar Duke of Marlborough.

Selain sebagai pusat perdagangan, benteng terkuat Inggris ke-2 di Asia setelah Benteng St. George Madras di India ini juga direncanakan untuk menghadapi ancaman-ancaman dari Kerajaan Banten, Belanda maupun dari pribumi sendiri. Namun, tetap saja ketika hampir selesai dibangun, benteng mampu dibakar rakyat Bengkulu pimpinan Pangeran Jenggalu, sehingga penghuninya mengungsi ke Madras. Para pengungsi dari Madras baru bisa kembali ke benteng pada tahun 1724 setelah diadakan perjanjian. Jadi benteng baru bisa diselesaikan seluruhnya tahun 1741.

Pada 1793, serangan kembali dilancarkan rakyat Bengkulu. Dalam insiden ini, seorang Kapten Angkatan Laut Inggris, Robert Hamilton, tewas. Tahun 1807residen Thomas Parr, juga tewas. Untuk memperingatinya, Pemerintah Inggris lalu mendirikan monumen-monumen yang letaknya tidak jauh dari Benteng Marlborough.

Selanjutnya Benteng Marlborough tetap berdiri pada masa Hindia Belanda tahun 1825-1942, Jepang tahun 1942-1945, dan masa perang kemerdekaan Indonesia. Benteng ini masih tetap difungsikan sebagai benteng pertahanan. Setelah Jepang kalah hingga tahun 1948, benteng menjadi markas Polri. Namun tahun 1949-1950, Benteng Marlborough diduduki kembali oleh Belanda. Setelah Belanda pergi barulah menjadi markas TNI-ADI hingga tahun 1977. Selanjutnya benteng diserahkan kepada pemerintah untuk dipugar dan dijadikan bangunan cagar budaya.

Jika ingin mengetahui dan menikmati keistimewaannya lebih jauh lagi, Sobat Pesona harus berkunjung ke Museum Benteng Marlborough. Karena berbagai peristiwa sejarah yang pernah terjadi di Benteng Marlborough, kini tertempel disana, Termasuk kisah Presiden Pertama Indonesia Soekarno yang diasingkan ke Bengkulu dari tahun 1938 hingga 1942. Soekarno pernah ditahan sementara di Benteng Marlborough untuk diinterogasi.