Appasili, Sebuah Kelahiran Kapal Pinisi

Seperti perjalanan hidup manusia, membuat kapal pinisi dimulai dari kelahiran. Saat pertama kali lunas menyentuh air laut akan menentukan perjalanan pinisi selanjutnya.

“Kalau perjalanan itu lancar, maka ke depannya, pinisi itu akan baik-baik saja,” kata Rudy T. Mintarto, desainer interior pinisi. Pernyataan Rudy ini merupakan keyakinan para pembuat pinisi di Kabupaten Bulukumba, Provinsi Sulawesi Selatan. Sebuah kawasan tempat pinisi yang melayari samudera kini terlahir.

Ketika mengunjungi salah satu pembuatan kapal pinisi, upacara Appasili tengah berlangsung. Upacara kelahiran. Setelah para pemuka termasuk panrita loppi (dukun kapal) hingga para pekerjanya berkumpul, maka dimuailah upacara tersebut. Doa-doa dipanjatkan dalam bahasa Arab diakhiri dengan memercikkan air ke seluruh bagian kapal. Barulah upaya mempertemukan kapal dengan air laut dimulai.

“Dulu ditarik langsung, sekarang sudah pakai alat bantu walaupun tetap pakai tenaga manusia,” kata Rudy. Suara rantai beradu dengan pemutar yang ditarik oleh puluhan orang. Sebuah pemandangan yang rasanya seperti Gulliver di Negeri Liliput. Sebuah kapal pinisi panjang dan besar ditarik inci demi inci dengan tenaga manusia. Di sinilah seninya.

Hingga lunas itu bergeser sangat pelan. Penarikan ini kadang bisa sampai lebih dari 3 hari. Sampai akhirnya saat yang dinantikan tiba ketika lunas menyentuh air laut pertama kali. Kapal itu mengapung di samudera.

“Kalau kapal sudah mengapung, barulah dibuat detilnya,” terang Rudy yang juga berpendidikan sebagai arsitek. Keseluruhan tubuh kapal dibangun kemudian interior kapal diselesaikan hingga kapal selesai. Alasan pembangunan lanjutan ini dilakukan di air yaitu untuk menguji keseimbangan kapal dan juga kebocoran. Bila di darat, kekurangan tersebut bisa terlewat.

Pembuatan kapal pinisi memang tak sekadar sebuah keahlian teknis namun juga magis. Bisa jadi, semua sudah direncakan namun terkadang ada saja halangan. Selain itu, kita bisa menyaksikan bagaimana para panritaloppi ini terkadang tak menggunakan alat pengukur namun bisa presisi betul. Pun dalam hal memahal kayu, terkadang seperti keahlian yang tanpa sadar dilakukan. Demikianlah Nusantara, kekayaan budayanya tak terbatas.


Foto: Titik Kartitiani