Menyusuri Candi Hindu di Desa Tumpang, Malang

Desa ini kecil saja. Kerap menjadi pintu masuk para pendaki menuju Semeru dan Bromo. Di sini, candi Jago berdiri dengan kekunoannya.

Candi Jago terletak di Dusun Jago, Desa Tumpang, Kecamatan Tumpang, Kabupaten Malang, tepatnya 22 km ke arah timur dari Kota Malang. Karena letaknya di Desa Tumpang, candi ini sering juga disebut Candi Tumpang. Penduduk setempat menyebutnya Cungkup.

Menurut kitab Negarakertagama dan Pararaton, nama candi ini yang sebenarnya adalah Jajaghu. Dalam pupuh 41 gatra ke-4 Negarakertagama dijelaskan bahwa Raja Wisnuwardhana yang memerintah Singasari menganut agama Syiwa Buddha, yaitu suatu aliran keagamaan yang merupakan perpaduan antara ajaran Hindu dan Buddha. Aliran tersebut berkembang selama masa pemerintahan Kerajaan Singasari, sebuah kerajaan yang letaknya sekitar 20 km dari Candi Jago. Jajaghu, yang artinya adalah 'keagungan', merupakan istilah yang digunakan untuk menyebut tempat suci.

Mengunjungi Candi Jago, kita bisa melihat aneka relief yang bercerita tentang banyak hal. Henri Nurcahyo, sejarawan di Malang pernah mengungkapkan bahwa di candi ini terdapat relief yang mengungkap beragam hidangan mewah para raja. Relief babi yang ada di salah satu panel candi, menurutnya, mengisahkan tentang hidangan ini. Pada masa para raja, daging babi dan anjing merupakan hidangan mewah sebab tak semua masyarakat bisa menjangkaunya.

Lebih lanjut, Lydia Kieven, seorang peneliti arkeolog juga mempelajari figur bertopi di candi ini. Topi Tekes merupakan kekhasan topi yang dimiliki para Panji, tokoh kisah rakyat yang melegenda di tanah Jawa.

Selain itu, di candi ini kerap digunakan untuk pentas seni. Salah satu pementasan tari topeng malangan oleh Ki Sholeh, salah satu tokoh seni wayang topeng di Tumpang. Alumni ISI Yogyakarta ini kerap menggelar pentas pada saat bulan purnama di Candi Jago. Pentas yang tak memerlukan panggung lagi, sebab candi sudah menjadi panggung yang indah dan magis. Keindahan seni tari dan olah rasa menjadikan pementasan di candi ini berasa magis.


Foto: Titik Kartitiani