Menjelajah Keindahan Sungai Mentarang

Katanya, Sungai Mentarang adalah wajah alam ketika Adam dan Hawa masih belia. Apakah ia bernama surga dunia?

Bukit dan lembah yang hijau dan separuhnya tertutup rumput setinggi 20 sentimeter. Inilah wajah Sungai Mentarang, salah satu sungai di Kabupaten Malinau, Provinsi Kalimantan Utara. Di sana selain ikan-ikan berenang di sungainya, terdapat juga rusa, dan banteng makan rumput dengan tenang tanpa gangguan.

Banyak juga uwa-uwa, sejenis monyet dengan suara yang menggema. Burung merak juga berteriak-teriak dengan suara cempreng. Burung enggang gading dengan anggunnya dipuja oleh Suku Dayak. Gayanya terbang menjadi gerak tarian, dan bulunya mereka pakai pada topi kebesaran. Ia adalah simbol alam atas, tempat para dewa tersenyum.

Padang alang-alang Long Tua juga terletak di salah satu spot Kayan Mentarang, taman nasional dengan luas 1, 35 juta hektare. Letaknya di ketinggian antara 200 meter hingga 2.500 meter di atas permukaan laut, membuat hewan dan tanamannya begitu beragam.

Pada 1996, kawasan ini terletak di Kabupaten Malinau dan sedikit Kabupaten Nunukan, diapit Sungai Kayan di selatan dan Sungai Mentanag di utara. Taman nasional ini memiliki kawasan hutan primer dan sekunder tua terbesar di Asia Tenggara.

Selain kerapatannya hampir tak tertandingi oleh hutan-hutan lain di Kalimantan, koleksi satwa liarnya juga lengkap. Berdasarkan penelitian World Wildlife Fund, ada lebih dari 70 mamalia di sana, termasuk banteng, rusa, kijang, dan macan akar. Ada 210 jenis burung, termasuk berbagai elang yang sangat sering kami lihat merentangkan sayapnya di atas pohon-pohon tepi sungai.

Kabarnya Sungai Mentarang kembali dilirik salah satu perusahaan internasional terkemuka asal Korea untuk dibangun pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA). Perusahaan Korea tersebut melihat langsung Sungai Mentarang dengan didampingi pejabat dari Kementerian ESDM, Dinas Pekerjaan Umum Perumahan Rakyat, dan Bagian Ekonomi Pemprov Kaltara, untuk melakukan survey potensi Sungai Mentarang.